“Kak, bagusnya cuci muka dulu sebelum tidur itu pakai air hangat, biar nanti tidak jerawatan mukanya…”

Kata-kata yang selalu terngiang, terngiang, dan terngiang dikepalaku saat aku menghadapkan wajahku didepan cermin, coba saja dahulu aku menurut dengan perintah orangtuaku untuk membersihkan muka dengan air hangat sebelum tidur mungkin wajahku kini tidak seperti ini. Kini wajahku berhias dengan jerawat-jerawat batu, noda hitam bekas jerawat yang aku pecahkan, dan komedo-komedo yang memperbesar lubang pori-pori wajahku.

Memang benar bahwa penyesalan selalu ada di akhir, dan apabila penyesalan telah kita alami tinggal kita dengar saja pepatah dari Bondan Prakoso yang dialunkan melalui lagunya, ya sudahlah. Bukannya tanpa alasan aku sudah menyerah dengan penderitaan muka yang penuh jerawat ini, sudah berbagai macam obat-obatan aku aplikasikan ke wajahku yang cukup ganteng ini. Mulai obat-obatan herbal dan non herbal telah aku coba agar bisa membasmi jerawat-jerawat yang berkembang biak diwajahku, selain itu juga obat-obatan untuk luar dan dalam juga ikut aku konsumsi namun hasilnya tetaplah tidak memuaskan keinginanku untuk menghilangkan jerawat dari wajahku.

Tomat, jeruk nipis, ampas kopi, rendaman air seledri, dan air perasan mentimun mungkin sudah akrab dengan wajahku, setiap kali waktu senggang mereka selalu aku kenakan sebagai masker wajah. Selain itu masker yang sudah tinggal pakai dari apotek pun sering aku beli, baik itu masker dari bahan alami maupun kimia. Namun hasilnya begini, wajahku rusak. Ibuku bilang terlalu banyak cara dan obat-obatan yang aku kenakan untuk membasmi jerawat diwajahku ini lah yang membuat wajahku tidak kunjung membaik dari serangan jerawat, bukan apa-apa tetapi aku selalu ingin cepat instan membersihkan jerawat dari wajah sehingga berbagai obat-batan pun aku kenakan agar bisa segera sembuh.

Korban iklan, bisa jadi itu yang terjadi padaku. Iklan memang sarana pemasaran yang baik untuk memasarkan suatu produk tetapi terkadang tersempil sebuah pembohongan besar, bayangkan hanya janji manis saja yang ditawarkan lewat artis-artisnya yang secepat kilat bisa sembuh jerawatnya menggunakan produk tersebut. Alhasil hampir jutaan rupiah telah aku gelontorkan demi menyembuhkan jerawat dari wajahku, memang tidak sekaligus tetapi kalau uang yang aku belikan untuk membeli pembersih wajah, obat-obatan, masker, dan vitamin untuk kulit itu aku kumpulkan mungkin apabila dikalkulasikan bisa mencapai jutaan rupiah.

 Memang ada satu obat atau cara yang belum aku coba untuk menghilangkan jerawat dari wajahku, namun obat yang satu ini membutuhkan kesiapan dana dan mental yang cukup besar. Aku dapatkan resep ini dari Wildan, temanku saat SMP dulu. Memang dahulu dia adalah siswa yang memiliki wajah paling meriah berhias dengan jerawat kala itu, namun begitu ajaibnya kini wajahnya lebih bersih dibandingkan terakhir kali kami bertemu, tepatnya saat dia menikah tiga tahun lalu.

Menikah, iya itulah resep yang diberikan Wildan kepadaku agar jerawat dari wajahku bisa hilang seperti apa yang telah dialaminya. Waduh menikah adalah hal yang sangat berat, selain butuh kesiapan mental yang besar dan dana juga yang besar, menikah juga membutuhkan pasangan sejati yang akan menjadi pendamping kita sehidup semati tentunya kan?

Jangankan memenuhi syarat mental dan dana, untuk memenuhi syarat memiliki pasangan pun aku tidak bisa, intinya aku jomblo dan sudah memang sudah sangat lama. Miris memang keadaan asmaraku, aku hanya bisa memendam rasa tanpa bisa mengungkapkannya. Mungkin itu juga yang membuat jerawat-jerawat diwajahku selalu muncul selain faktor turunan dari orang tua, hormon yang berlebih dan juga jarang cuci muka.

Benar-benar cinta itu memang berbahaya, karena cinta yang terpendam menjadi jerawat yang menyebalkan. Pernah suatu waktu aku sempat sangat takut terjangkit buah cinta ini, tepatnya saat belajar mata pelajaran biologi di SMA dulu. Waktu itu guruku bercerita apabila jerawat itu bisa menyebabkan kematian, awalnya aku tidak percaya tapi lama-lama aku percaya ketika melihat raut wajah guruku mendadak serius.

Jujur aku merasakan debaran jantung yang sangat kencang waktu itu, karena si buah cinta selalu tumbuh dengan subur disekujur wajahku. Cucuran keringat dingin pun ikut serta hadir seketika itu juga, tetapi ternyata sesaat kemudian guruku tersenyum dengan sumringah saat melihat ekspresi-ekspresi terkejut dari siswa-siswi mendengar ceritanya yang sebenarnya hanya fiktif belaka. Tetapi cerita tersebut bagaikan menjadi cemoohan yang melekat diingatanku sampai saat ini, dan sampai saat ini juga aku masih belum bisa berteman dengan cermin, karena setiap kali aku menghadap cermin setiap kali itu juga hatiku selalu berkata: Andaikan aku menurut kepada orang tuaku dulu, mungkin akhirnya tidak seperti ini…

Trust your parent’s, it’s will be work. 😀

(Visited 38 times, 1 visits today)
Wajahku!
Bagikan ke:
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *