Semilir angin menggerai halus rambut Adinda, seirama dengan dedauanan yang berguguran. Dalam kesunyian, dia bergumam dalam hati.

Adinda : Sungguh ironis, begitu teganya manusia merenggut naluri alami dari kota ini. Bagaimana mungkin manusia masih bisa bertahan? Apabila jantung kehidupan hampir punah didalam kota ini!

Murka semakin mengkontaminasi hati Adinda yang masih murni, tatkala pandangannya tersambar oleh karya tangan para manusia modern yang saling bersinggungan dengan taman kota yang sedang menampung kehadiran Adinda. Menderai, air mata dari kedua pasang matanya.

Adinda : Seberapa murkakah diriMu, tuhan? Atas apa yang telah kami lakukan, masihkah engkau akan menyayangi kami?

Jalanan beraspal tak rata yang menghubungkan jalan raya dengan taman kembali menerima deru langkah Adinda, dia melangkah menuju pedalaman hidupnya.

Kakanda : Darimana engkau, Adinda?

Tanya Kakanda mengalun dari halaman kecil depan rumah, sembari merapikan tanaman yang hidup subur.

Adinda : Mengamati kehidupan dari sudut pandang taman kota, Kakanda. 

Kakanda : Hebat, kemampuan analitikmu sudah berkembang pesat.

Adinda tersenyum senang.

Kakanda : Lalu, apa yang dapat disimpulkan, atas apa yang telah analisis?

Adinda : Ternyata manusia sangat kejam, Kakanda. Semena-mena membumi hanguskan makhluk hidup lain. Aku pun merasa sama kejamnya, karena hanya sanggup berpendapat melalui kata-kata tidak dalam perbuatan.

Kakanda : Sungguh luar biasa apa yang telah engkau temukan, itulah serpihan kehidupan yang harus engkau temukan pasangannya yang pas. Sama halnya dengan bermain puzzle, namun engkau dituntut agar mengerti apa yang engkau akan pasang dan dimana akan memasangnya.

Adinda nampak kebingungan, seperti biasa.

Kakanda : Engkau tak mengerti? 

Adinda : Iya, Kakanda.

Kakanda : Mari! Ikutlah bersamaku.

Mereka berdua melangkah menuju gudang di bagian belakang rumah.

Adinda : Mengapa ke gudang, Kakanda?

Kakanda : Ambil ini!

Sebuah sekop dan bibit tanaman kini tertambat di tangan Adinda.

Adinda : Kita akan menanam pohon, Kakanda?

Kakanda mengangguk, seraya melangkah keluar gudang, menuju kembali ke halaman depan.

Kakanda : Mari kita tanam disini.

Mula-mula, tanah terkoyak oleh tumpulnya sekop. Lalu, sekop menusuk bertubi-tubi tanah, dengan kaat lain “penggemburan” dan dibuat menganga. Benih pun diletakan dalam lubang yang telah menganga tersebut, bukan dikubur hidup-hidup tetapi dikubur agar hidup. Akhirnya tanah menutupi akhir cerita hubungan antara tanah dan benih tanaman.

Kakanda : Sudahkah kamu tahu jawaban dari pertanyaanmu tadi?

Adinda menggelengkan kepala.

Kakanda : Kepedulian, kepedulianmu terhadap lingkungan yang harus engkau miliki. Mulailah dari lingkaran yang kecil sebelum menyentuh lingkaran yang besar, mulai dari dirimu sendiri terlebih dahulu. Apa yang telah engkau lakukan tadi adalah salah satu opsinya.

Adinda terlihat sumringah, bergegas dia mengambil air guna memberikan nafas bagi benih yang telah ditanamnya. Senyum simpul terukir di mulut Kakanda.

Nouer Dyn

(Visited 13 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part4
Bagikan ke:

2 thoughts on “Kakanda dan Adinda #Part4

  • May 6, 2014 at 5:02 pm
    Permalink

    jadi inget panggilan ama mantan, adinda kakanda wkwkw

    Reply
    • May 7, 2014 at 1:21 am
      Permalink

      Hahaha, begitu mesranya bung Kapriliyanto.
      Semoga mendapatkan adinda yang lebih baik bung.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *