Pagi, membiaskan simfoni keindahan yang terpancar dari mentari yang tengah membuka matanya. Adinda, dengan tenang menikmati indahnya mentari pagi dari balkon.

Kakanda : Sedang apa gerangan dirimu, Adinda?

Datang dari balik tirai bambu, Kakanda menyuguhkan tanya dibubuhi secangkir teh hangat.

Adinda : Terima kasih, Kakanda. Aku sedang menikmati indahnya mentari pagi. Selain indah, hangat yang dibawanya memberikan kenikmatan yang menembus raga.

Kakanda menyunggingkan senyuman, bersama mereka duduk di tepian balkon yang tersinari oleh cahaya sinar mentari pagi. Bersama mereka nikmati hangatnya teh dan mentari pagi.

Adinda : Kakanda?

Kakanda : Ya, ada apa?

Adinda : Aku berfikir, hangat mentari saja sanggup membuat ragaku begitu nyaman, apalagi kehangatan yang diberikan oleh sang pencipta mentari. Tentu, kehangatan kasih sayangNya dapat membuat kita nyaman dalam menjalani waktu.

Mendengar perkataan Adinda, Kakanda ternsenyum kecil.

Kakanda : Benar sekali apa yang engkau katakan, kehangatan yang diberikan oleh tuhan tiada tara dan tiada tandingannya.

Adinda : Bagaimana caranya agar aku bisa menikmatinya, Kakanda?

Kakanda : Sangat mudah, engkau hanya tinggal menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Sejenak Adinda berfikir dan mengafirmasikan lewat khayalan sesaat.

Adinda : Begitu mudah ternyata, Kakanda.

Kakanda : Tentu sangat mudah, tuhan tidak akan pernah memberikan syarat di lluar kemampuan umatNya agar mendapatkan kehangatanNya. Akan tetapi, ¬†manusia akan sangat sulit mendapatkannya apabila…

Tiba-tiba hening sejenak, perkataan Kakanda hilang bak ditelah bumi.

Adinda : Apabila apa, Kakanda?

Kakanda : Coba engkau tebak.

Adinda menyelami lubang fikirnya, mencari tahu jawaban atas pertanyaan Kakanda.

Adinda : Apakah apabila manusia masih memiliki sifat jahat?

Bagaikan de ja vu, Kakanda kembali tertawa dalam irama dan nada yang sama.

Kakanda : Secara kasar dapat dikatakan seperti itu. Jadi apabila manusia masih dapat terpengaruh oleh kenimatan sesaat yang ditawarkan oleh hawa nafsu yang dimilikinya, kehangatan dari kasih sayang tuhan masih akan sangat suli dinikmatinya. 

Adinda : Oh, jadi seperti itu ya kesulitan yang akan dihadapi oleh manusia?

Kakanda : Iya, namun itu bukan halangan jika engkau bisa mengelola hawa nafsumu. Jangan salah, hawa nafsu juga karunia yang diberikan oleh tuhan khusus kepada manusia. Hawa nafsu hanyalah sebagai ujian yang akan meluluskan manusia dalam kehidupan fana ini.

Adinda : Baik, Kakanda. Aku akan melakukan yang terbaik agar mendapatkan kehangatan dari kasih sayang tuhan.

Kakanda : Berjuanglah, sayang.

Tanpa terasa teh dalam gelas mereka sudah mulai mendingin, namun mentari semakin tinggi dan semakin hangat. Begitu pun kehangatan kasih sayang tuhan yang menghangati keharmonisan Kakanda dan Adinda.

Alhamdulillah, Nouer Dyn.

 

(Visited 10 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part3
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *