Pelangi, nampak indah bersama semburat jingga yang  bersenandung diatas langit. Namun angin berhembus, membuat daya tahan tubuh merasakan kegetiran melawan hawa dingin yang menumpang dalam kandungan angin.

Adinda menggigil, gigi dan tubuhnya menggetar.

Kakanda : Masuklah kedalam rumah, Adinda.

Adinda : Tidak apa-apa, Kakanda.

Kakanda : Rasamu memang tidak merasakan apa-apa, akan tetapi tengoklah ragamu, bahasa tubuhmu mengatakan kejujuran.

Adinda tersenyum simpul.

Adinda : Aku masih merasa baik, Kakanda. Selama aku masih bisa menikmati keindahan ini.

Sembari melihat kembali mentari yang mulai terbenam, Adinda menahan dingin. Sejenak Kakanda menatapnya, lalu melangkahkan raganya menuju kedalam rumah, mengambil selimut dan secangkir teh hangat.

Adinda : Terima kasih banyak, engkau sangat baik dan sangat peduli, Kakanda.

Kakanda : Semoga engkau nyaman, sayang.

Kakanda beranjak kembali menuju ke dalam rumah.

Adinda : Tidakkah engkau sempatkan waktumu menikmati senja yang indah ini, Kakanda?

Kakanda mendeham.

Kakanda : Tawaran yang menarik, baiklah.

Berdua mereka menikmati senja yang sudah menunjukan gradasi warnanya, cuaca dingin bak tak terasa tatkala mereka berdua saling berbagi selimut dan teh hangat berdua. Kehangatan buatan yang hebat!

Adinda : Bagaimana menurutmu? Indah bukan?

Kakanda : Tentu akan sangat indah, tiada yang tak indah mahakarya buatan tuhan, begitupun bidadari yang sudi berbagi selimut dan tehnya bersamaku.

Mereka tertawa mesra, lihatlah! Senja membias pula di wajah Adinda yang terpancar dari kalimat sihir Kakanda.

Adinda : Gombal.

Perlahan namun pasti, seiring tirai-tirai rumah warga yang mulai menutup, senja pun beralih menuju malam temaram.

Nouer Dyn

 

(Visited 9 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part12
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *