10154438_606581289428209_2076991854_n

Dulu, menikmati keheningan malam sembari mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk lebih enak ditemani secangkir kopi hitam. Begitulah kebiasaanku setiap malam, terutama disaat tingkat awal kuliah waktu dimana tugas-tugas masih sering diupdate setiap hari oleh setiap dosen. Malas, bosan, lelah, dan semua hal yang negatif lainnya menjadi prosesi yang tidak pernah luput ketika mengerjakan tugas-tugas tersebut, seduhan segelas kopi hitam memang sangat membantu, selain mengurangi kantuk kopi hitam juga bisa membuat perasaanku semakin damai walaupun tugas bagaikan badai.

Akan tetapi, sebuah argumen yang pantas dicamkan adalah “setiap hal didunia ini diciptakan berpasang-pasangan”. Pria dan wanita, siang dan malam, beserta hal-hal lain yang kita tahu semua pasti memiliki pasangannya masing-masing. Begitupun dengan si kopi hitam, teman setiaku dikala menikmati hiruk pikuk dengan tugas kuliah. Kopi hitam yang kuseduh memiliki pasangan setia dan sejati, pasangannya adalah si tembakau penghasil asap alias rokok.

Kretek maupun mild bisa menjadi tipe pasangan yang cocok untuk menemani si kopi hitam, rasanya? Jangan ditanya, tentu kenikmatannya akan semakin sempurna, semakin bertenaga untuk mengerjakan tugas. Begitu singkat cerita pengalamanku dengan rokok, sang pemberi kenikmatan duniawi dan memberikan aku suplai energi. Namun, percayakah jika “sang pemberi kenikmatan” itulah yang menyebabkan sesuatu terjadi di salah satu organ penting yang membuatku bisa bernafas?

Ya, aku menderita kanker yang mendera paru-paruku, tepat ditingkat akhir kumenjalani studi S1. Penyakit ini membuat kuliahku terhenti, juga membuat sulitnya nafas mengaliri kehidupanku. Ironis, ternyata sesuatu yang kita percayai memberikan dampak yang baik bagi kenyamanan kita, ternyata pada kenyataannya malah berdampak buruk pada kesehatan dan bahkan kehidupan kita. Tetapi apa mau dikata, kayu sudah menjadi arang dan arang pun sudah menjadi abu. Vonis dokter telah aku terima, kutunggu waktu kehidupan hanya dalam jangka waktu satu semester, bukan kehidupan kuliah melainkan kehidupan terakhirku di dunia. 🙂

Waktu-waktu aku jalani dengan bahagia, walaupun hanya aku lalui sisa kehidupan ini dari atas timangan kasur rumah sakit, merasakan menjadi raja dengan pelayan yang hampir menyediakan 80% kebutuhanku.  Sedih memang bukan kepalang, sepanjang waktu aku merasakannya. Setiap jam, menit, detik, rasa sedih tidak pernah lepas dari ingatanku. Belum lagi melihat kesedihan yang begitu mendalam tumbuh subur diraut wajah kedua orang tuaku juga sanak familiku yang lain, rasa penyesalan yang teramat besar memang memukul perasaanku bertubi-tubi. Terlebih atas maklumat yang diberikan dokter bahwa faktor utama penyebab kanker paru-paru yang aku derita berasal dari aktifitasku merokok tanpa henti tanpa diimbangi pola hidup yang sehat.

Mau bagaimana lagi? Begitulah kehidupan mahasiswa, hidup jauh dari pola hidup sehat memang sudah menjadi kebiasaan yang mutlak. Mulai dari telat makan atau bahkan jarang makan, begadang tiap malam (Nugas, nonton bola, ataupun asyik ngenet), dan yang paling tidak sehat tentu porsi kuliah yang tidak seimbang dengan porsi liburannya. Begitulah kebiasaan yang aku jalani, aku merasa nyaman menjalaninya walaupun ternyata seperti sekarang ini hasilnya.

Cukup sudah aku jalani kenikmatan bersama rokok, sekarang tinggal aku membayar hutang terhadap kesehatanku dan kehidupanku. Entahlah aku tidak tahu apa benar rokok yang menyebabkan penyakitku ini? Ataukah ada faktor lain yang menyebabkannya? Hanya Tuhanlah yang tahu apa penyebabnya dan apa makna dibalik kejadian ini, aku ikhlaskan semua kepada sang khalik. Satu pesan dariku, percayalah yang memang kalian percaya itu baik untuk diri kalian. Jangan terpengaruh pendapat orang lain, karena pendapat terbaik adalah pendapat yang datang dari lubuk hatimu sendiri.  Believe, God’s have a good plan for you!  

Flash Fiction – Nouer Dyn

.

(Visited 77 times, 1 visits today)
Habis Tragis, Sepah Diambang Kematian
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *