Membaca buku di kalangan anak-anak masa kini mungkin sudah menjadi aktivitas yang jarang dilakukan, berbeda halnya dengan aktivitas berjenis  hiburan seperti bermain game dan menonton TV. Namun bukan berarti tidak ada, masih ada anak-anak yang menggemari membaca buku, hanya saja terbatas dalam lingkup  yang kecil.

Untuk urusan produksi buku anak di Indonesia saat ini memang sangat baik, jumlahnya cukup banyak dan variannya pun  cukup beragam. Namun sayangnya peranan mayoritas orang tua di Indonesia dalam pendidikan informal, seperti menerapkan kecintaan membaca pada anak masih menjadi hal yang dianggap tidak penting dan dampaknya pun membuat aktivitas membaca menjadi bukan sebuah kepentingan.

Padahal apabila anak-anak sudah terbiasa membaca buku di luar pendidikan formalnya, tingkat intelegensi anak akan semakin baik karena proses pengasahan otak melalui aktivitas membaca sangatlah luar biasa. Gaya dan pola pemikiran jadul memang menjadi ancaman sekaligus tantangan yang harus di daur ulang, agar kualitas SDM masyarakat berkembang menuju ke arah yang lebih baik.

Selain permasalahan tersebut, dewasa ini bidang perbukuan sudah seperti bidang musik,  karena mengalami konspirasi konten berbau unsur dewasa dan lebih parahnya lagi hal tersebut tidak ditanggulangi secara serius. Korbannya tentu anak-anak, karena mereka telah mengonsumsi materi yang seharusnya belum layak mereka konsumsi. Hasilnya? Silahkan ditinjau di dunia masyarakat, hal-hal yang berkenaan dengan “cinta” masih menjadi unggulan dalam menarik minat anak-anak jaman kini.

Sekedar contoh kecil, saat jaman dahulu peran majalah Bobo dalam meningkatkan minat membaca anak cukup tinggi, cerita-cerita yang disajikannya menarik dan bermanfaat di pasar anak-anak. Seharusnya hal-hal kecil seperti ini kembali digaungkan, agar minat membaca pada anak dapat kembali tumbuh, apabila minat membaca telah tumbuh produksi buku pun tidak akan terasa mubadzir.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab dan melakukan perbaikan atas semua kejadian tersebut? Tentu tanggung jawab semua lapisan baik itu masyarakat maupun pemerintahan, karena anak adalah aset bangsa, hanya bangsa goblok yang membuat aset bangsanya bobrok. Apakah kita seperti itu?

Penjaja Kata

(Visited 6 times, 1 visits today)
Dilematika Dunia Anak
Bagikan ke:
Tagged on:                     

2 thoughts on “Dilematika Dunia Anak

  • August 31, 2014 at 3:05 am
    Permalink

    Untuk tingkat Sekolah Dasar, peranan guru dirasa perlu. Guru sendiri harus memberikan contoh bahwa membaca adalah perlu. Lolosnya buku berbau dewasa pada beberapa waktu yang lalu jelas pada sebuah sekolah bisa menandakan bahwa pemberi ijin beredarnya buku tidak membaca terlebih dahulu

    Reply
    • August 31, 2014 at 4:25 am
      Permalink

      Tentu, sosok yang wajib digugu dan ditiru harus memberikan contoh yang baik & benar. 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *