Toleat, Dari Masa Ke Masa. Hati-hati jangan sampai salah baca, toleat bukan toilet. Toleat sangat jauh berbeda dengan toilet, karena toleat adalah salah satu bentuk kebudayaan dari Indonesia, khususnya di tanah Pasundan. Toleat, alat musik tradisional asal dari kota Subang yang terbuat dari bambu dan termasuk alat musik aeorophone bertangga nada pentatonis. Bentuk toleat hampir menyerupai suling atau seruling. Namun memiliki perbedaan dari segi suara dan teknik peniupan.

Pada hari jumat tanggal 10 oktober 2014, diselenggarakan acara “Ngadabrul Toleat Ti Masa Ka Masa” sebuah pertunjukan seni serta diskusi perihal silsilah toleat dari masa ke masa. Selain itu acara ini juga dalam rangka memberikan tribute bagi sang pencipta toleat yang telah kembali dalam naungan Allah SWT, Maman Suparman alias Mang Parman. Seorang anak gembala yang sangat mencintai sawah dan mendapatkan kegembiraan yang luar biasa, hanya dari memainkan toleat. Sebuah kisah nyata yang serupa dengan cerita Sri Krishna dari India.

1413105739710002764
                                       Suasana Acara

Bertempat di sanggar seni Ringkang Nonoman, kota Subang. Dalam acara ini hadir para seniman, jurnalis, dinas kebudayaan & pariwisata Subang, komunitas pemuda pecinta budaya, pelajar, serta masyarakat umum, baik yang berasal dari Subang maupun dari kota lain. Pertunjukan seni dari maestro toleat setempat dan siswa SMKN 10 Bandung menjadi pertunjukan pembuka acara tersebut.

1413113684437987663

Dalam momen diskusi diperbincangkan mengenai pemakzulan toleat sebagai alat musik tradisional khas Subang, serta penghargaan khusus bagi para seniman yang telah berjasa besar dalam berkreasi dan berinovasi untuk memperkaya keberanekaragaman budaya Indonesia dalam bidang seni. Walaupun seorang seniman sejati akan memilih hidup dalam kesederhanaan, namun kehidupan tidak selalu konstan sehingga butuh peran serta pemerintah dalam memantau kondisi finansial maupun non finansial para seniman Indonesia.

Toleat semakin dikenal setelah hadir dalam acara Festival Musik Bambu Nasional, namun sebuah fakta yang mengejutkan bahwa sang maestro serta pencipta toleat Mang Parman  tidak pernah ikut serta dalam kegiatan tersebut. Bahkan menjadi sebuah ironi ketika salah satu kerabat Mang Parman membeberkan bahwa saat acara tersebut berlangsung, beliau tengah mengamen dengan toleatnya demi mendulang pundi-pundi rupiah. Memang kejadian yang miris, ketika pamor suatu karya tidak berbanding lurus dengan sosok seniman sebagai sang pencipta.

Seyogyanya kejadian yang menimpa Mang Parman dapat menjadi cambukan bagi pihak pemerintah, agar melakukan antisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi pada para seniman lain yang telah memberikan kontribusi positif bagi negara, khusunya dalam bidang seni budaya. Seni budaya tentu memiliki peran penting dalam tatanan sebuah negara. Bahkan ada sebuah pandangan yang mengutarakan bahwa ketika para ahli politik telah mengalami kegagalan mengelola sebuah negara, maka serahkanlah pada para seniman.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan loreng. Kini Mang Parman telah tiada, namun beliau telah meninggalkan mahakarya yang dapat membanggakan masyarakat Subang serta Indonesia. Semoga sang maestro dapat mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan di sisi Allah SWT dan toleat menjadi alat musik tradisional Indonesia yang dapat dikenal dalam kancah internasional.

Penjaja Kata

(Visited 11 times, 1 visits today)
Toleat, Dari Masa Ke Masa.
Bagikan ke:

One thought on “Toleat, Dari Masa Ke Masa.

  • December 12, 2015 at 1:05 am
    Permalink

    Yuk cintai alat musik tradisional yang ada di Indonesia. ^^

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *