Satu kata yang sudah pasti dimiliki dan menggambarkan sosok para komikus dan ilustrator adalah kreativitas. Apa jadinya komikus dan ilustrator tanpa memiliki daya kreativitas? Sudah tentu karya-karyanya hanya akan digunakan untuk menghias baliho-baliho calon wakil rakyat yang pernah nampang di pinggir-pinggir jalan. 🙂

Kreativitas menjadi perbincangan hangat yang sangat menarik dan bermanfaat dalam acara Talkshow & Sharing Bersama Komikus dan Ilustrator “We’ve got talent, let’s sell it” yang diselenggarakan oleh Penerbit Mizan. Acara ini bertempat di Djoeroe Masak Bandung, pada hari minggu tanggal 21 Desember 2014.

Acara ini diselenggarakan adalah sebagai ajang silaturahmi antara penerbit Mizan dengan para komikus & ilustrator, simbiosis mutualisme yang tercipta antara kedua belah pihak memang harus tetap dijaga agar lebih banyak karya anak bangsa yang dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia bahkan mancanegara.

Dua sosok “orang gila” hadir menjadi juru gedor kreativitas dalam acara ini, mereka adalah Wahyu Aditya (Founder Hellomotion) dan Sweta Kartika (Komikus Nusantaranger dan Grey & Jingga). Mengapa mereka disebut orang gila? Hal ini dikarenakan orang kreatif dengan orang gila hampir sama, perbedaannya orang kreatif memiliki karya sedangkan orang gila tidak. (Semoga yang bersangkutan berkenan dipanggil gila. ^_^)

Talkshow & Sharing Komikus & Ilustrator  - Penerbit Mizan - We've got talent, let's sell it

Dalam acara ini, Wahyu Aditya dan Sweta Kartika berbagi pengalaman dan pengetahuan selama malang melintang di dunia komik dan ilustrasi. Bahkan tanpa sungkan mereka berbagi tips kreatif dalam berkarya serta cara menjual karya bagi para peserta acara yang mayoritas adalah komikus dan ilustrator. (Blogger menjadi peserta minoritas. -_-“)

Lalu bagaimanakah cara agar menjadi orang yang kreatif? Kreatif itu mudah, untuk menjadi kreatif tidak membutuhkan biaya melainkan usaha dan tenaga. “Orang kreatif adalah orang yang kere tapi aktif” celetuk mas Wadit pada saat sesi tanya jawab dengan peserta acara.

Bagi mas Wadit (Sapaan akrab Wahyu Aditya), dalam melakukan proses kreatif untuk berkarya dapat menerapkan pola 2R, yakni rekam dan re-mix. Proses merekam merupakan proses mengumpulkan referensi sebanyak mungkin, sebelum kita memulai untuk melakukan proses re-mix guna memunculkan ide-ide baru yang brilian, lantas mengubahnya menjadi karya.

Aku Ingin Jadi Komikus

Hal serupa diamini pula oleh Sweta Kartika, seorang komikus muda Indonesia yang menerapkan pola 2R dalam berkarya. Hal ini terbukti pada karya fenomenalnya, komik Nusantaranger, komik ini merupakan buah inspirasi Sweta Kartika dari film Super Sentai atau lebih dikenal dengan nama Power Ranger, yang sering ditontonnya semasa kanak-kanak.

“Karya yang baik adalah karya yang memiliki isi dan misi”. Dalam berkarya, bukan media yang kita jual, melainkan konten. Maka dari itu, berfokuslah untuk berkarya demi menghasilkan konten, karena sebuah konsep konten yang menjual akan dapat diaplikasikan dalam berbagai media. Anda bingung? Bagus, berarti Anda belajar. 🙂

Coba kita ambil contoh dari Naruto; Naruto dan koleganya adalah konten, sedangkan komik, film, game, dan lain sebagainya yang menyisipkan sosok Naruto adalah media. Coba bayangkan berapa banyak keuntungan yang diperoleh Masashi Kishimoto dari konten Naruto, buah tangan hasil kreativitasnya? Jangan berkecil hati, Anda juga pasti bisa. 😉

Agar karya yang kita ciptakan memiliki nilai jual, fokuslah berkarya dalam membuat konten. Bukan hanya dalam bidang komik dan ilustrasi saja, bahkan patut diterapkan dalam bidang-bidang lainnya. Untuk media, pilihlah media yang sesuai dengan kemampuan finansial dan non-finansial yang kita miliki.

Setelah memiliki karya, lantas pelajarilah cara pemasaran yang efektif. Salah satu bentuk pemasaran yang efektif adalah membangun jaringan early adapter yang dapat membantu mempublikasikan karya kita. Jaringan early adapter ibarat agen pemasaran, semakin banyak agen pemasaran yang kita gunakan tentu karya kita terpublikasikan dengan lebih cepat dan lebih luas.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu milikilah ciri khas dalam berkarya, jangan ikuti tren tetapi ciptakanlah trenmu sendiri. Buatlah karya yang tidak berjarak dengan pembacanya, agar pemikiran kita pun lebih terbuka dalam berkarya, sama halnya dengan konsep seorang pemimpin idaman masyarakat yakni “blusukan“.

Acara Talkshow & Sharing Komikus & Ilustrator “We’ve got talent, let’s sell it” ditutup dengan prosesi makan bersama, diiringi musik akustik yang membuat suasana semakin melankoli. Sayangnya, dirimu tak hadir di sampingku, duhai tulang rusukku. :’) *curcol

Terima kasih atas kepada Penerbit Mizan dan Djoeroe Masak atas undangan, snack pagi hari, makan siang, goodie bag, dan sebungkus roti imut yang diberikan kepada blogger Bandung. Tabik!!

Penjaja Kata

(Visited 57 times, 1 visits today)
Talkshow & Sharing Bersama Komikus dan Ilustrator
Bagikan ke:

5 thoughts on “Talkshow & Sharing Bersama Komikus dan Ilustrator

  • December 26, 2014 at 12:11 pm
    Permalink

    Menjadi seorang komikus harus berimajinasi tinggi. Bukan gue banget.

    Reply
    • December 27, 2014 at 1:54 am
      Permalink

      Wah, berarti ente kurang rajin nonton Sponge Bob, bro. wkwkwk

      Reply
  • January 10, 2015 at 10:56 am
    Permalink

    Acar ini emang seru banget, sayang kesiangan jadi ada beberapa materi yang ketinggalan 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *