Dewasa ini hiking menjadi tren yang sedang naik gunung (Naik daun terlalu mainstream dan terlalu personifikasi. haha), khususnya kalangan mahasiswa di kota Bandung.  Hiking atau lebih merakyat dengan nama naik gunung, menjadi sarana wisata pemacu adrenalin yang cukup membantu melatih mental dan fisik serta dapat memberikan hiburan mata dan jiwa dengan pesona lingkungan yang masih alami.

Area untuk hiking sendiri di Indonesia memang banyak dan tersebar dimana-mana,  hal ini yang menjadi alasan aktifitas hiking dapat menyebabkan ketagihan akut, karena setelah mencoba di salah satu gunung maka para hikers sebutan bagi para pecandu hiking kita akan tertantang untuk mencoba gunung lain yang belum didaki atau bahkan gunung yang lebih liar lagi jalur pendakiannya.

Bandung sebagai kota mode dan kota kreatif, bukan berarti tidak memiliki sarana wisata pemacu adrenalin. Dari beberapa area pendakian di daerah Bandung raya, gunung Jayagiri adalah salah satu area pendakian yang dapat Anda coba jajal. Jalur pendakiannya tidak terlalu ekstrim, sangat cocok bagi pemula yang ingin mencoba merasakan sense of hiking. 

Akses kendaraan menuju tempat pendakian cukup mudah dan dapat diakses dengan berbagai mode transportasi kecil dan menengah. Salah satu akses jalan menuju jalur pendakian Jayagiri ada diseputar daerah pasar Lembang. Setelah sampai di pintu masuk, alangkah baiknya kita mampir dulu ke warung yang berdekatan dengan area parkir untuk sekedar minum kopi atau untuk menambah amunisi perbekalan.

Selain itu di warung tersebut kita bisa menitipkan beberapa barang kita seperti helm, kendaraan, dan barang lain yang tidak akan kita bawa serta dalam proses pendakian. Hal ini perlu dilakukan agar barang-barang tersebut aman dari tangan-tangan jahil selama kita melakukan proses pendakian, tenang pemilik warung ramah jadi untuk urusan harga dan lain-lain bisa diatur asalkan teknik lobying kita bagus.

Bagi umat muslim juga turut disediakan mushola berdekatan dengan warung tersebut, jadi ibadah tetap jangan ditinggalkan agar perjalanan kita aman dan nyaman selama dan sesudah pendakian. Satu lagi yang perlu dimiliki seorang pendaki, jiwa sosial. Baik untuk sesama pendaki maupun warga sekitar, setidaknya tegur sapa serta lempar senyuman harus kita lakukan. Intinya jadilah pendaki yang berbudaya santun, santun terhadap alam dan sesama manusia.

Spot Untuk Penitipan Kendaraan, Mushola, dan Toilet di Jayagiri
Spot Untuk Penitipan Kendaraan, Mushola, dan                                      Toilet di Jayagiri

Untuk masuk ke area pendakian Jayagiri kita harus mengeluarkan kocek yang tidak terlalu besar, cukup 5000 rupiah untuk pendakian PP dan 8000 rupiah bagi yang berencana untuk camping.  Harga yang tidak terlalu mahal, apalagi dengan harga tersebut kita juga telah mendapatkan asuransi jiwa.

IMG_1322
        Gerbang Masuk Jayagiri (Pasar Lembang)

Di awal-awal pendakian, jalur memang masih tergolong standar dan masih banyak ditemui perumahan warga dan beberapa warga yang sedang beraktifitas menggunakan motor di jalur pendakian. Tahap ini adalah sebuah ujian bagi pendaki pemula, karena biasanya mereka kurang bisa memanajemen semangatnya yang menggebu. Alhasil dalam jarak yang belum terlalu jauh letih dan lelah akan mudah mendera.

Hiking bukan hanya sekedar naik gunung yang sakarepmu, ada tips-tips tertentu yang harus dipahami. Misalnya mengenai teknik melangkah yang baik dan benar, pemilihan pijakan, manajemen waktu istirahat yang efektif, dan hal-hal lain mengenai teknik dasar dalam aktifitas hiking. Selain itu jangan sok jaim, ungkapkan saja apa yang sedang dirasakan karena hiking adalah aktifitas yang mengedepankan rasa sosial.

Area pegunungan Jayagiri kini memang tidak hanya diperuntukan bagi para pendaki saja, para pecinta offroad roda dua maupun roda empat juga turut menggunakannya sebagai tempat mereka menyalurkan hobi ekstrimnya. Bagi para pendaki sendiri, aktifitas offroad memang cukup mengganggu dan memberikan dampak yang kurang baik bagi para pendaki gunung buatan Tuhan.

Selain membuat kontur tanah menjadi berbeda, pembukaan jalur-jalur baru bagi para offroader membuat para pecinta hiking akan kebingungan dalam mencari jalur menuju puncak. Apalagi rute pendakian menuju Jayagiri ada dari beberapa tempat yang berbeda, jadi jika pendaki salah memilih jalur bisa tersesat dan malah turun menuju pintu masuk di area lain, contohnya di area Tangkuban Parahu.

Warung 1 Pendakian Jayagiri
                    Warung 1 Pendakian Jayagiri

Jalur pendakian Jayagiri memang cukup bersahabat, fluktuansinya tidak terlalu cepat. Estimasi waktu untuk mencapai puncak kurang lebih 1 sampai 2 jam apabila diselingi beberapa kali istirahat di tengah perjalanan, tetapi bila sudah terbiasa hiking paling kurang lebih 30 sampai 40 menit sudah sampai di puncak Jayagiri. Setelah sampai di area puncak kita akan menemui warung sederhana lagi, setidaknya bisa menghilangkan rasa asam dimulut para pendaki.

Warung Si Ema
                                    Warung Si Ema

Setibanya di puncak, jika dalam waktu weekend mungkin Anda akan menemukan beberapa tenda terapasang di area puncak, serta beberapa spot yang digunakan untuk api unggun. Biasanya para pendaki juga memasak bahan makanan yang mereka bekal menggunakan peralatan masak sederhana. Kualitas dari kenikmatan makan ditemani desir angin serta kesejukan iklim Jayagiri memang tiada tara, walaupun hanya makan mie instan saja.

Prepare Peralatan Masak Portable

 

Namun sayang, beberapa oknum pendaki masih melakukan ritual jelek yakni membuang sampah sembarangan. Jadi baik itu di sepanjang perjalanan maupun di area puncak, sampah selalu ditemukan bagaikan udara yang tersedia dimana-mana. Semoga saja kecintaan manusia terhadap alam berimbas pada rasa tanggung jawab untuk mengelola dan menjaga lingkungan agar tetap lestari. (Hikers yang baik adalah yang selalu membawa trash bag) 🙂

Kamuflase Sampah

Tidak jauh dari area puncak gunung Jayagiri, terdapat suatu objek tempat penggembalaan kuda, biasanya banyak yang iseng mengganggu kuda-kuda ditempat tersebut. Selain itu ada pula jasa tunggangan kuda, biasanya digunakan oleh masyarakat elit yang tidak mau terlalu lelah mendaki gunung, keringat adalah uang bagi mereka. 😀

IMG_1373

IMG_1382

Bagi Anda yang suka berfoto narsis alias selfie, disini juga banyak spot-spot yang dapat digunakan untuk berfoto dengan background alam. Tinggal kecerdikan kita memilih latar tempatnya saja, tentu PP kita di setiap akun media sosial akan semakin mantap! 😀

Narsis is Nice!
                                                Narsis adalah keberanian

Untuk estimasi waktu turun dari puncak kurang lebih setengah perjalanan dari keberangkatan, tentu sudah pasti nenek-nenek kayang pun akan tahu kalau turun gunung akan lebih cepat dari naik gunung bukan? Hehe. Jadi tidak membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang ekstra untuk proses pendakian gunung Jayagiri, jadi tertarik untuk mencoba hiking di Jayagiri?

Satu fakta yang saya dapatkan di puncak Jayagiri dan akan mengakhiri postingan ini, ternyata yang paling tinggi bukan puncak gunung melainkan pohonnya! :v kress

Pendakian Gunung Jayagiri
Sandra Nurdiansyah

(Visited 125 times, 1 visits today)
Sensasi Alam Gunung Jayagiri
Bagikan ke:

19 thoughts on “Sensasi Alam Gunung Jayagiri

  • September 10, 2014 at 2:46 am
    Permalink

    Cuma bisa menjadi penikmat blog yang suka traveling maupun hiking 😀 takut sih klo hiking 😀

    Reply
    • September 10, 2014 at 4:38 pm
      Permalink

      Wah bagus kalau takut, biasanya kalau orang ketakutan akan sesuatu pasti kejadian, contohnya takut kalau lihat hantu biasanya bisa lihat. Hehe
      Oke semoga segera bisa menikmati sense of hiking ya. 😀

      Reply
  • September 10, 2014 at 2:18 am
    Permalink

    Hai salam kenal, kalo di Bandung baru pernah nyoba Burangrang aja sih.. hehe
    tapi, satu kawasan sama latian tembak nya kopasus hehe

    Reply
    • September 10, 2014 at 4:35 pm
      Permalink

      Hai salam kenal juga, oh pernah coba Burangrang? Memang disitu sudah di sabotase. hehe *ups :v

      Reply
        • September 11, 2014 at 2:00 pm
          Permalink

          Tapi kalo yang naiknya cewe, mungkin latihan “nembak”nya juga pasti beda. wkwkwk

          Reply
  • September 10, 2014 at 10:09 am
    Permalink

    Naik gunung memang asyik. 😀
    Apalagi kalau areanya menantang, memicu rasa keberanian.

    Reply
    • September 10, 2014 at 4:40 pm
      Permalink

      Betul, apalagi sambil nyanyi lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung” pasti akan semakin luar biasa pendakiannya. 😀

      Reply
      • September 11, 2014 at 9:28 am
        Permalink

        Haha. Iya,biar semakin melambung lagi lagunya karena bener-bener kejadian, tapi di kenyataan kok jarang menjumpai pohon cemara, ya? 😀

        Reply
        • September 11, 2014 at 1:58 pm
          Permalink

          Iya, hal-hal yang berbau cemara memang sekarang sulit dijumpai, contoh lainnya film keluarga cemara juga sudah ngga pernah tayang lagi TV. Hehehe *loh 😀

          Reply
          • September 11, 2014 at 2:05 pm
            Permalink

            Yah, kok itu sih? Tapi iya juga sih, mungkin tiruan cemara yang masih dijumpai ya? 😀

          • September 12, 2014 at 1:34 am
            Permalink

            Haha, berhubung lahan hijau sudah sulit didapat jadi cemara berkamuflase menjadi sebuah keluarga. 😀 Haha

          • September 12, 2014 at 11:38 am
            Permalink

            Haha, iya. Dan keluarga cemara juga sudah jadi cerita. 😀

          • September 13, 2014 at 1:02 am
            Permalink

            Jadi simbol keluarga harmonis juga loh. hehe 😀

          • September 13, 2014 at 2:38 pm
            Permalink

            Oh ya? Waaah 😀

          • September 16, 2014 at 5:42 pm
            Permalink

            Kalau dilihat dari alur cerita keluarga cemara sih agak mendekati lah. hehe

  • September 12, 2014 at 10:57 am
    Permalink

    Wahh.. aku baru pernah naik gunung Bromo, tapi nggak kaya gitu yah mungkin beda hihiii
    TApi mmng seru sih yah, apalagi kalau sudah smapai puncak rasa lelah sekejap hilang liat keindahan alam dari atas gunung

    Reply
    • September 12, 2014 at 12:04 pm
      Permalink

      Wow keren udah ke Bromo. Eh, engga kaya gitu gimana nih maksudnya? Iya gunungnya ngga terlalu fantastis sih. Hehe
      Iya bener, rasa lelah terganti oleh rasa sumringah. 😀
      Salam kenal ya. 😀

      Reply
  • April 12, 2015 at 4:23 am
    Permalink

    alhamdullilah kak, insya allah nanti minggu depan mau ke jayagiri bareng teman-teman 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *