Dewasa ini, kurikulum 2013 tengah menjadi wacana hangat di setiap perbincangan perihal sistem pendidikan di Indonesia, baik di level “warung” maupun “cafe”. Kurikulum yang digadang-gadang akan menghasilkan produk-produk bangsa berkualitas internasional sedang dalam tahap pengkajian ulang.

Apabila diibaratkan sebuah makanan, kurikulum 2013 hanya dikulum semata lalu dimuntahkan kembali. Hal ini dikarenakan ada “bumbu” yang masih terasa kurang tepat dengan “lidah” orang Indonesia. Perumpamaan bumbu adalah sistem pendidikan, serta lidah adalah kemampuan rata-rata siswa di Indonesia.

Proses adaptasi diperlukan bagi para pelajar Indonesia, untuk dapat mengikuti sistem pendidikan sesuai dengan kurikulum 2013. Akan tetapi kenyataan yang telah terjadi sejauh ini dalam penerapan kurikulum 2013, bukanlah proses adaptasi yang dilakukan melainkan para siswa dijadikan “kelinci percobaan”.

Hal ini telah coba dibenahi oleh Putera Sampoerna Foundation, yakni dengan menerapkan pola pendidikan berkualitas internasional dengan proses pengadaptasian yang baik dan benar terhadap para pelajar Indonesia, dengan fokus pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering & Math).

Keterampilan dan pengetahuan pelajar akan masing-masing mata pelajaran sangat erat kaitannya dengan kesuksesan dan metoda belajar efektif siswa. STEM dikenal sebagai sebuah metoda pembelajaran terapan yang menggunakan pendekatan antar ilmu. Aplikasi STEM biasanya dibarengi dengan pembelajaran aktif dan berbasis masalah.

Metoda pendidikan STEM dikenalkan dalam acara Media & Blogger Getaway pada tanggal 4-5 Desember 2014, sebuah acara yang diperuntukan untuk menjalin kerja sama antara jurnalis dari berbagai media dengan blogger dalam mengenalkan metoda pembelajaran STEM di Indonesia. Acara ini diselenggarakan oleh Putera Sampoerna Foundation, bertempat di The Highland Park Resort, Bogor. 

Media & Blogger Getaway Putera Sampoerna Foundation

Dalam acara ini dipaparkan pula data yang dirilis oleh McKinsey Global Institute, bahwasanya Indonesia diprediksi sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke-7 di dunia pada 2030. Untuk mewujudkan hal itu, McKinsey Global Institute menilai bahwa Indonesia memerlukan 113 juta tenaga kerja dengan keterampilan dan keahlian yang memadai.

Media & Blogger Getaway 2014
                 Media & Blogger Getaway 2014

Hal ini menjadi situasi yang sangat riskan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015, dikarenakan pergerakan bebas tenaga terampil dari berbagai negara di lingkup ASEAN. Sudah tentu tenaga kerja Indonesia yang keterampilan dan keahliannya kurang memadai, akan kembali “dijajah” khususnya dalam bidang ketenagakerjaan oleh tenaga kerja dari negara lain yang lebih berkualitas.

Menilik kembali masa lalu, tepatnya pada saat negara Indonesia berada dalam belenggu kolonialisme. Apakah bangsa Indonesia memerlukan “penjajahan” lagi dari bangsa lain untuk dapat merdeka di tanahnya sendiri? Memang bukan penjajahan secara empiris yang akan terjadi, melainkan penjajahan dalam beberapa sektor sentral seperti ekonomi & pendidikan. Pertanyaan ini diperuntukan untuk seluruh bangsa Indonesia, pertanyaan yang bernada intermezzo namun memiliki esensi yang luar biasa.

Maka dari itu, bidang Science, Technology, Engineering and Math (STEM) merupakan landasan penting dalam pengembangan dan pembangunan bangsa Indonesia. Bahkan menurut National Science Foundation, dalam 10 tahun ke depan, 80% lapangan pekerjaan akan membutuhkan kemampuan kompetensi sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Sayangnya, data BPS (Badan Pusat Statistik) 2010 menunjukkan bahwa tenaga kerja di Indonesia masih didominasi oleh 88 juta tenaga kerja kurang terampil. 22,1 juta orang Indonesia merupakan tenaga kerja terampil, dan hanya terdapat 6,5 juta orang yang ahli di bidangnya.

Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tenaga kerja belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja (talent gap). Melihat kondisi tersebut, Indonesia harus berani merancang ulang sistem pendidikannya serta mengubahnya menjadi mesin penggerak pembangunan ekonomi, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kerja, menuju kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.

Maka dari itu, selama proses pengkajian ulang kurikulum 2013, alangkah lebih baik apabila pemerintah khususnya dinas pendidikan mencoba mengaplikasikan STEM dalam sistem pendidikan di Indonesia.  Selain sesuai dengan kurikulum 2013, STEM juga sukses diterapkan di beberapa negara maju dunia dalam mengentaskan masalah pendidikan.


The Winner "Team Science" PSF Getaway 2014  by Nchie Hanie.

Dalam acara Media & Blogger Getaway, metoda pembelajaran STEM dikenalkan selain pengenalan secara verbal serta praktik melalui rangkaian acara berupa games-games yang seru, menarik, dan bermanfaat. Sehingga para jurnalis dan blogger dapat lebih mudah memahami keunggulan dari metoda pembelajaran STEM.

Sudah saatnya mengganti pola pengajaran kolot yang terbiasa dilakukan di Indonesia. Siswa harus dibimbing untuk memahami pelajaran, bukan dibuat bimbang dengan menghafal pelajaran. STEM merupakan pola pembelajaran yang sangat tepat diterapkan di Indonesia, karena porsi antara teori dan praktik disesuaikan demi output terbaik bagi siswa.

Namun jangan takut apabila pemerintah tidak mengadopsi pola pendidikan STEM dalam sistem pendidikan di Indonesia. Melalui Sampoerna School System, Putera Sampoerna Foundation berupaya memberikan akses pendidikan berkualitas internasional dengan fokus pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering & Math) bagi generasi muda Indonesia dengan harga yang terjangkau.

Sampoerna School System merupakan bagian dari bentuk komitmen dan upaya Putera Sampoerna Foundation untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia selama lebih dari 10 tahun, serta mencetak pemimpin masa depan Indonesia yang unggul dan berkarakter melalui pendidikan berkualitas internasional di Indonesia.

“Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan. Merdeka baik secara fisik, mental, dan kerohanian.” Begitulah kalimat teladang dan motivasi dari bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Semoga kehadiran STEM dapat memerdekakan bangsa Indonesia, baik secara fisik, mental, dan kerohanian.

Penjaja Kata

(Visited 152 times, 1 visits today)
Re-Konstruksi Kurikulum 2013 Dengan STEM
Bagikan ke:

2 thoughts on “Re-Konstruksi Kurikulum 2013 Dengan STEM

  • December 14, 2014 at 4:15 am
    Permalink

    Beruntung banget kita bisa berkesempatan untuk hadir di event #PSFGetaway ini yah Sandra 🙂
    Talkshow yang dibawakan oleh narasumber benar2 bisa membuka mata kita tentang kondisi pendidikan di Indonesia ya 🙂

    Reply
    • December 16, 2014 at 1:30 pm
      Permalink

      Iya benar, mba Erry. Semoga saja STEM dapat diterapkan dalam pola pendidikan di Indonesia. 😀

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *