Pendar Sang Surya
Pintu Student Center Itenas, Bandung.

Permisi, izinkanlah cahayaku menyusup di sela-sela daunmu, Pintu. Maafkan karena cahayaku liar, tak bisa kuarahkan hanya pada satu titik sahaja. Kalaupun bisa, aku harus belajar sifat tak adil terlebih dahulu.

Ya, benar, manusia bisa jadi gurunya. Tapi jawabanmu yang benar itu belum tentu baik, apalagi engkau hanyalah sekadar benda berwujud, tanpa akal dan tanpa budi pekerti. Tahu apa kau tentang sifat manusia? Aku juga yang diciptakan satu-satunya di alam semesta, tak tahu banyak tentang manusia.

Tapi, kupikir kau memiliki persamaan dengan manusia, lho. Tahu, enggak? Kau diciptakan, bersama sebangsa Pintu, memiliki alat yang sering manusia sebut ‘Pegangan Pintu’. Tanpa adanya alat ini dalam dirimu, engkau sudah dikategorikan tak layak difungsikan, peranmu harus digantikan oleh Pintu yang baru.

Manusia pun sama, mereka diciptakan oleh Tuhan diberikan sebuah pegangan yang disebut kitab suci. Tanpanya, manusia dibuat merana, kelabakan dengan berbagai pandangan, mudah percaya dengan tipu daya. Dan, peranannya di dunia pun sudah tak berguna, jikalau pola hidupnya telah keluar dari aturan dalam sumber pegangannya.

Mengapa tak didobrak saja? Pintu pun masih bisa terbuka bila didobrak?

Gila!!! Kau bisa berpikir seperti itu? Pandai kau berpikir. Kalaulah aku pasang pintu untuk didobrak di toilet, mungkin orang yang sedang kencing banyak yang mati kaget. Hahaha …

Kau memang pandai berpikir, tapi tak cerdas memaknai setiap penciptaan. Orang yang sedang berada di suatu ruangan, akan tahu kehadiran seseorang ketika pegangan pintunya dibuka. Jadi, manusia akan tahu makna dan arti kehidupannya di dunia, jika dia buka pegangan hidupnya. Betul, tidak?

 

Beberapa hari setelah Idul Fitri
Student Center, Itenas Bandung. 

Penjaja Kata

(Visited 11 times, 1 visits today)
Pendar Sang Surya
Bagikan ke:
Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *