Pelestarian Budaya Indonesia melalui Film Pendek Fiksi End Of Black Era, Penjaja Kata. Media film menjadi media yang universal dalam penyampaian suatu pesan, serta edukasi pada masyarakat melalui media visual. Apabila sebuah film tidak memiliki pesan serta nilai edukasi di dalamnya, atau hanya sebagai hiburan belaka, film tersebut tentu tidak akan mudah dikenang dalam ingatan para penontonnya.

Selayang Pandang

End of Black Era – The Incident adalah sebuah film pendek yang diproduksi oleh costume designer Indonesia, Yuris Aryanna. Film ini ingin meningkatkan awareness kepada publik akan pentingnya peran costume dalam perfilman, juga ingin membantu pengrajin lokal Indonesia. Dengan melakukan research costume yang menggunakan bahan dari pengrajin lokal, diharapkan dapat meningkatkan daya jual dari produk-produk tersebut.

Film pendek ber-genre fiksi berdurasi yang tidak lebih dari 10 menit. Walaupun tidak berdurasi lama seperti film-film fiksi popular dunia, tetapi banyak pesan yang disampaikan melalui film ini. Khususnya dalam pelestarian tradisi dan budaya Indonesia, khususnya budaya tangible (berbenda) di antaranya tenun lurik dan kerajinan dari tembaga. Tenun lurik dijadikan padanan costume pemeran warga dan pemeran utama, sedangkan perhiasan tembaga dikenakan di telinga warga dan pemeran utama.

Belum tahu seperti apa film-nya? Yuk simak dulu trailer-nya di bawah ini:

Mengapa genre fantasi yang dipilih? Genre fantasi ini diharapkan menjadi sebuah jembatan antara modern audience dan pengrajin traditional. Selain itu, genre film fantasi sendiri jarang dipilih oleh sineas di Indonesia. Dan, film ini juga ingin menyampaikan pesannya pada anak muda Indonesia yang notabene lebih tertarik dengan film ber-genre fiksi.

Bandung menjadi kota yang dipilih untuk penyelenggaraan acara screening film ini yang kedua kalinya, setelah diadakan acara serupa di Jakarta. Diselenggarakan di Indicinema Bale Motekar Unpad pada hari Minggu, 21 Mei 2017, acara yang dihadiri oleh beberapa pegiat film ini berlangsung dengan baik. Dimulai dengan pemutaran film dokumenter dari pengrajin perhiasan tembaga, Pak Baidi, dan pengrajin kain tenun lurik gendong, Mbah Reso.

Pak Baidi adalah seorang pengrajin tembaga. Beliau usaha sendiri dan menerima pesanan dari rumahnya. Selain itu anak laki-laki beliau, Andri, memiliki kemampuan dalam bidang desain grafis. Sayangnya, di tempat ia tinggal ia tidak mendapatkan penghasilan yang pantas di tempatnya bekerja. Ia pun mendapatkan kesempatan untuk magang bersama dengan tim produksi film End Of Black Era – The Incident.
Pak Baidi, Pengrajin Perhiasan Tembaga.
Buah Karya Pak Baidi.

 

Mbah Reso berasal dari Desa Jambakan di Klaten, Yogyakarta. Beliau menenun Tenun Lurik dengan metode gendong sementara para penenun lain menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin). Sistem tenun gendong yang dilestarikan oleh Mbah Reso ini mengandung filosofi yang sangat hebat. Bahwasannya, hidup tak mesti mewah, asalkan tiap keringat yang kita teteskan dapat membawa berkah.
Mbah Reso.
Buah Karya Mbah Reso.
Kedua seniman ini menjadi target sukses dari film End Of Black Era. Kedua pengrajin tersebut merupakan sosok pengrajin hebat yang masih menjaga tradisi dan budaya leluhurnya. Di tengah deru modernisasi yang terus bertumbuh dengan pesat, keduanya masih setia dengan sistem tradisional yang menjadi keahlian mereka yang diperoleh secara turun-temurun.

Informasi 

Dua produk budaya yang coba dilestarikan melalui film ini adalah kain tenun lurik dan kerajinan tembaga. Walau hanya berdurasi beberapa menit saja, tetapi biaya yang digelontorkan untuk film ini sangatlah besar. Mulai dari bahan prostetik yang digunakan oleh tokoh Enemy, tokoh antagonis berwarna biru, harus impor dari luar negeri dengan harga yang mahal.

Tokoh Enemy.

Harga prostetik yang hanya satu kali pemakaian itu berkisar 60 juta, belum lagi biaya-biaya lainnya yang tak kalah besar. Berdasarkan informasi saat Q & A pada acara di Bandung, biaya total produksi film pendek ini mencapai nilai 500 juta. Jumlah yang sangat-sangat besar untuk sebuah film pendek, bagi saya, tetapi jika melihat kualitas yang diperlihatkan tentu harga tersebut sangatlah sepadan.

Selain itu ada beberapa kesulitan dalam proses produksi film End Of Black Era – The Incident. Hal ini dijelaskan oleh Yuris Aryanna selaku costume designer dan producer, serta Yongki Ongestu selaku director dalam produksi film End Of Black Era. Mulai dari kostum yang menghasilkan flickr, cedera pada cast pemain, sampai keterbatasan biaya menjadi beberapa kendala yang dialami dalam pembuatan film ini.

Budget besar yang telah digelontorkan, serta kesulitan-kesulitan yang dialami dalam proses produksi dan editing, merupakan sebuah permulaan bagi film pendek End Of Black Era – The Incident. Film ini bisa saja menjadi barometer untuk menciptakan rasa cinta terhadap budaya pada diri anak muda Indonesia, asalkan ada dukungan dari pihak-pihak lain seperti pemerintahan, media, dan tentunya masyarakat.

Apabila semua elemen tersebut bisa ikut membantu proses pertumbuhan film End Of Black Era, bukan tidak mungkin jika budaya Indonesia akan lebih dikenal dan dihargai oleh dunia dan yang terpenting oleh bangsanya sendiri. Semoga film ini dapat bertahan dan dibuat dalam versi yang lebih “mengenyangkan”, karena kemasan yang terlalu singkat akan sulit dicerna oleh penonton yang awam. 🙂

Penjaja Kata

(Visited 109 times, 1 visits today)
Pelestarian Budaya Indonesia melalui Film Pendek Fiksi End Of Black Era
Bagikan ke:

One thought on “Pelestarian Budaya Indonesia melalui Film Pendek Fiksi End Of Black Era

  • June 2, 2017 at 9:54 am
    Permalink

    Kok video nya restricted mode ya.. Ahh sudahlah.. Tapi biaya produksi untuk bikin film genre fantasy memang butuh biasa banyaak

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *