Kitab suci agama islam yakni Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi kaum muslim di seluruh penjuru dunia, memang sudah menjadi rahasia umum bagi semua kaum muslim di seluruh dunia. Namun bukan hanya sebagai pedoman dalam kehidupan saja, melainkan meliputi urusan kematian pula, bahkan kehidupan setelah kematian kelak dibahas dalam al-quran. Kitab yang sungguh luar biasa dapat mencakup berbagai hal dari yang paling kecil sampai yang paling besar.

Al-Qur’an memang hanya sebuah buku berisi kertas-kertas yang dibubuhi oleh untaian kalimat berbahasa arab, jikalau hal tersebut dipandang sisi fisiknya saja. Akan tetapi al-qur’an bukan sembarang buku biasa, bahkan aktivitas dalam membacanya disinonimkan dengan kata kerja “mengaji” yang tentunya bukan hanya sekedar dibaca saja melainkan dikaji dari segi lafal, makna, dan arti dari setiap kata dan kalimatnya.

Dalam urusan produksi kitab al-quran di Indonesia memang cukup baik, namun bukan tanpa kendala. Kendalanya hampir sama dengan buku bacaan umum, yakni faktor kebiasaan masyarakat yang kurang dalam membiasakan aktifitas membaca. Tentu dalam urusan produksi hal ini sangat menghambat, terutama dalam kebutuhan akan urusan biaya pembelian bahan baku pembuatan.

Berbanding lurus dengan hal tersebut, tingkat kesulitan membaca al-quran bagi masyarakat yang masih awam memang tergolong cukup rumit. Β Apalagi dalam membaca al-quran salah dalam pelafalan kata atau makhorizul huruf maka akan salah arti dari kata tersebut, jika salah tentu pahala membacanya akan kurang baik.

Memang terobosan baru dalam mempermudah proses belajar membaca al-qur’an semakin banyak, selain dengan pemberian warna juga ada al-quran yang menggunakan pengadaptasian teknologi elektrik agar dapat mendeteksi isi dari al-qur’an dan mengimplementasikan melalui bentuk suara agar dapat lebih mudah dalam proses membaca al-qur’an.

Namun kendala dalam teknologi terbaru dalam mempelajari al-quran ini adalah biaya, memang harga yang dipatok cukup tinggi khususnya untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah. Selain itu terkadang dengan semakin mudahnya akses materi untuk belajar, maka akan semakin membuat malas manusia untuk belajar lebih giat demi memperdalam ilmu tersebut, ini hanya sekedar klise dari kehidupan.

Al-Quran memang akan terus mengalami perkembangan terutama dalam pengaplikasian beberapa unsur yang dapat memudahkan orang muslim untuk memahami isi al-quran. Jika boleh memberikan ide sederhana, akan lebih inspiratif dan multitasking apabila al-quran dikemas dengan teknologi 4 dimensi, tentu teknologi ini lebih mudah dipahami baik oleh kalangan muda maupun tua karena sisi visualismenya lebih mudah dipahami.

Melalui teknologi 4 dimensi, konten-konten seperti pemahaman transliterasi, tajwid dan pelafalan makhorizul huruf, terjemahan, bahkan hadist untuk menunjang penjelasan makna dalam al-qur’an dapat dikemas lebih menarik. Selain itu bila dikombinasikan dengan sistem suara maka fungsinya akan semakin efektif dalam proses mempelajari al-qur’an.

Intinya mari kita berusaha untuk mempelajari lebih dalam pedoman kehidupan dan kematian kita sebagai manusia, terutama bagi kita kaum muslim. Alangkah sayang apabila pedoman ini hanya dijadikan hiasan diri bukan dijadikan pijakan diri. Bagai istilah dalam hadist yakni mari amalkan walaupun hanya satu ayat, tetapi bukan berarti hanya satu ayat selama hidup melainkan satu ayat dalam artian sebagai stimulan untuk terus menerus membaca al-qur’an.

Terlepas dari itu semua, hal yang paling penting adalah niat dan proses pengamalannya yang baik dan benar lah yang akan membuat proses mempelajari al-qur’an semakin mudah, walaupun memang media yang digunakan masih tergolong kurang modern. Sekian opini yang masih terlalu banyak kekurangannya, mohon dikoreksi dan dimaafkan apabila ditemukan kesalahan. Akhir kata semoga Allah menjadikan postingan ini bermanfaat bagi umat manusia. Amin

Iqro a yaqrau quranan
Pameran Buku Bandung 2014

Penjaja Kata

(Visited 120 times, 1 visits today)
Pedoman Hidup & Mati
Tagged on:                                             

5 thoughts on “Pedoman Hidup & Mati

  • August 30, 2014 at 8:28 am
    Permalink

    aamiin
    Ya, mengaji juga perlu memahami. πŸ™‚

    Reply
    • August 30, 2014 at 1:47 pm
      Permalink

      Tentu, tanpa dipahami mengaji Al-Quran tidak akan terasa nikmat. πŸ™‚

      Reply
      • August 30, 2014 at 4:11 pm
        Permalink

        Membaca, mengartikan, mengerti, memahami. πŸ˜€

        Reply
        • August 30, 2014 at 4:22 pm
          Permalink

          Subhanallah, cerdas sekali merunutnya. πŸ™‚

          Reply
          • August 30, 2014 at 4:28 pm
            Permalink

            Alhamdulillah πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *