Pac-Man, siapa yang tidak tahu game yang populer di era 80-an dan 90-an ini? Bagi yang lahir di era 80-an, terutama yang gaul, akan mengenal game ini sebagai salah satu permainan dingdong. Bagi yang lahir di era 90-an, seperti saya, mungkin akan lebih banyak mengenal game ini karena menjadi salah satu bonus dalam game Nintendo versi klasik. Bagi yang kurang gaul, pasti enggak akan tahu deh. wkwkwk

Pac-Man merupakan video games arcade yang dirilis di Jepang pada 22 Mei 1980, game ini pun mendapatkan penghargaan dari Guinness World Record sebagai game koin terbaik di dunia. Tak ayal, banyak pihak yang masih mengingat game legendaris yang sudah beberapa kali masuk dapur perfilman di negara Paman Sam.

Lantas, apa hubungannya antara Pac-Man dengan film Pixels?

Pixels adalah film komedi sci-fi 3D yang diproduksi oleh Columbia Pictures, rilis di Indonesia pada akhir bulan Juli 2015. Nah, di dalam film Pixelssosok Pac-Man sangat kontradiktif dengan sosok aslinya di dalam game. Jika di dalam game Pac-Man adalah sosok protagonis, yang dikejar oleh tokoh jahat yang berwujud hantu dengan beragam warna.

Toru Iwatani dan Pac Man
Toru Iwatani dan Pac-Man

Namun di film Pixels, sosoknya berubah menjadi antagonis dan merusak kota New York. Bahkan, dengan tega dia memakan tangan Toru Iwatani ( Denis Akiyama ) yang tidak lain adalah ‘Ayah’nya yang telah merancang dan menciptakan game Pac-Man. Sungguh tega sekali Pac-Man berbuat demikian kepada ayahnya sendiri. Durhaka kau Pakkuman*!!!

Tapi, apa sih sebenarnya yang membuat Pac-Man menjadi jahat? Tentu akan ada alasan di balik setiap kejadian. Maka, untuk mengetahuinya, kamu harus mengetahui sinopsis dari film Pixels. 🙂

 

Sinopsis

pixels-cast-qbert
Sam Brenner, Violet, Will Cooper, & Q*bert

Di musim panas 1882, Sam Brenner ( Adam Sandler ) and Will Cooper ( Kevin James ) mencoba salah satu gerai game arcade baru yang ada di kotanya. Ternyata Sam Brenner memiliki keahlian yang luar biasa dalam game, dia dapat memahami pola-pola dari setiap game yang dia mainkan. Hingga suatu hari Will Cooper mengajak Sam Brenner untuk mengikuti Arcade Game World Champions, di sana juga mereka bertemu dan berteman dengan salah satu gamers dengan julukan Wonder Kids, Ludlow Lamonsoff ( Josh Gad ), yang mencintai salah satu tokoh game bernama Lady Lisa.

Berbagai game telah dimenangkan oleh Brenner, sayangnya dia kalah oleh Eddie Plant ( Peter Dinklage ) dalam game Donkey Kong. Dia pun harus puas berada di posisi kedua. Tidak berhenti sampai di situ, ternyata pertandingan tersebut direkam oleh pihak penyelenggara dan dikirimkan ke ruang angkasa, dengan maksud sebagai bahan dokumentasi kehidupan manusia bumi.

Selang beberapa waktu kemudian, para alien menanggapi isi pesan dalam rekaman yang telah dikirimkan. Namun ternyata, mereka menganggap rekaman tersebut merupakan tantangan untuk perang dari penduduk bumi. Para alien pun melakukan penyerangan terhadap bumi dengan menggunakan senjata, konsep, dan strategi yang sama seperti di dalam game.

Tentara Amerika Serikat pun dibuat kelabakan dengan salah satu serangan yang berbentuk game Galaga, karena persenjataan yang digunakan dapat mengubah benda yang ditembak menjadi partikel elemen kecil. Selain menyerang dengan persenjataannya, para alien ini juga menyandera beberapa orang manusia yang dijadikan trofi di setiap game yang telah dilalui.

Presiden Amerika Serikat yang ternyata adalah Will Cooper, pun mengambil langkah seribu untuk mengatasi gangguan tersebut. Dia pun mengumpulkan bawahannya untuk merumuskan dan menemukan penyebab dari gangguan tersebut. Berkat bantuan dari rekan Sang Presiden yang tak lain adalah Sam Brenner, akhirnya gangguan dari para alien pun dapat ditemukan penyebab dan solusi penanganannya.

Will Cooper pun menugaskan pasukan Navy Seal yang diinstruksikan untuk latihan bermain game kepada Sam dan Ludlow, agar mereka bisa melawan serangan para alien. Namun ternyata mereka mengalami kekalahan dari para alien. Sam Brenner pun akhirnya yang harus melawan para alien. Tidak cukup sampai di situ, dia pun membentuk tim bersama Ludlow Lamonsof, Eddie Plant, dan Letnan Kolonel Violet ( Michelle Monaghan ).

Tim ini mendapatkan tugas pertama untuk melawan Pac-Man yang menjadi jahat. Sehingga mereka pun menjadi ‘Ghost’ dengan menggunakan mobil Mini Cooper dan bertugas untuk mengejar Pac-Man, sama seperti di dalam game-nya. Toru Iwatani ikut andil dalam melawan Pac-Man, walaupun akhir nasibnya cukup naas karena tangannya dimakan oleh ‘Anak’nya sendiri. Kemenangan memang diraih oleh Sam dan tim-nya, tapi ternyata para alien mencium adanya kecurangan yang dilakukan manusia, yakni oleh Eddie Plant. Dan, akhirnya para alien pun memborbardir bumi dengan semua game-nya.

Untuk menghentikan serangan tersebut, Sam harus menghadapi bos dari para game, yang tidak lain adalah game Donkey Kong, satu-satunya game yang gagal diselesaikannya Sam di Arcade Game World Champions. Namun pada akhirnya Sam pun tahu bahwa ketika itu juga Eddie Plant bisa menjadi juara 1 karena melakukan kecurangan. Menggunakan konsep ‘menjadi satu dengan game‘, Sam pun dapat memenangkan game Donkey Kong dan menghalau para alien pergi dari bumi.

Intermezzo

Mungkin beberapa orangtua akan berkata kepada anaknya bahwa: Orang yang terlalu banyak main game, masa depannya akan suram. Apakah kamu pernah mendengarnya juga?

Ternyata hal ini pun turut diceritakan di film Pixel dengan mengulas. Saat dewasa, para gamers yang terdiri dari Sam Brenner, Ludlow Lamonsof, dan Eddie Plant bernasib cukup tragis bila dibandingkan dengan Will Cooper yang menjadi Presiden Amerika Serikat. Berbeda dengan yang lain, Will Cooper memang bukan pemain game, tapi dia hanya lihai dalam memainkan penjepit di mesin pengambil boneka. Apakah karena keahliannya ini dia bisa menjadi Presiden? Entahlah, hanya Tuhan dan penulis naskahnya yang tahu. 😀

Qbert di Film Pixels
Qbert

Di film Pixels juga menyertakan tokoh Q*bert yang menjadi salah satu tokoh inti di film Pixels, terutama menjelang scene akhir. Berbeda halnya dengan perannya di film Wreck-It Ralph yang menjadi tokoh figuran karena menjadi game yang terbuang, di film Pixels dia menjadi salah satu tokoh penting. Bahkan Q*bert dijadikan salah satu trofi di scene terakhir, yaitu saat Sam dan timnya melawan game Donkey Kong.

Ada hal aneh lagi yang terjadi di sini, ternyata Q*bert yang tidak lenyap seperti game-game lainnya setelah para alien pergi. Tapi yang lebih aneh, dia justru berubah menjadi Lady Lisa, tokoh game yang disukai oleh Ludlow Lamonsof. Tahu bagaimana kelanjutannya setelah perubahan tersebut? Ya, sebuah adegan yang selalu hadir di setiap film buatan negara Paman Sam: Ciuman. Dan, pastinya adegan tersebut akan dianggap sebagai “Siasat Imperialis” oleh sebagian golongan. Hahaha

Lady Lisa
Q*bert –> Lady Lisa = ?

Apa lagi yang aneh, ya? Pokoknya, terlalu banyak untuk dijelaskan, tapi akan terlalu singkat apabila kamu menonton filmnya langsung. 😉

Pesan dan Kesan

Film Pixels memang film komedi berkualitas tinggi: shoot kamera sangat ciamik, efek suara dan citra sangat menawan, dan konsep cerita yang segar. Cocok ditonton oleh semua umur, semua jenis kelamin, dan pastinya semua manusia. Tetapi, hanya satu kekurangan dari film ini, kekurangannya ialah bukan produk karya dari bangsa Indonesia. Jadi, bagi yang mau nonton ke bioskop, utamakan nonton film buatan Indonesia dulu sebelum nonton film impor, ya. Film baru di tahun 2015 buatan anak-anak Indonesia juga tak kalah keren kok, banyak pilihannya genre film-nya juga, paling cuma kalah pamor aja di mata masyarakat sih. Ya, itu mah kita sendiri yang tahu solusinya. 🙂

Penjaja Kata

Info: *Pakkuman: Nama awal Pac-Man di Jepang.

(Visited 96 times, 1 visits today)
Pac-Man Durhaka Kepada Ayahnya di Film Pixels
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *