Go Set A Watchman adalah naskah pertama yang diajukan Harper Lee kepada penerbit sebelum To Kill a Mockingbird, yang telah memenangi Pulitzer. Setelah 60 tahun dianggap hilang, naskah berharga ini ditemukan pada akhir 2014. Terbitnya Go Set A Watchman disambut animo luar biasa. Buku ini terjual lebih dari 1,1 juta kopi di minggu pertama, memuncaki daftar bestseller di Amerika selama 5 minggu berturut-turut dalam 1,5 bulan, dan mengalahkan penjualan Harry Potter serta 50 Shades of Grey. Go Set A Watchman, warisan berharga Harper Lee, penulis Amerika paling berpengaruh pada abad ke-20.

Go Set A Watchman telah hadir di Indonesia

“Menasihati orang lain memang mudah. Tapi, membuat mereka menjalankan nasihat sangat sulit. Itulah penyebab sebagian besar masalah di dunia ini, karena orang-orang tidak menuruti nasihat.”
(Jean Louise Finch, #GoSetAWatchman)

Selayang Pandang

Go Set A Watchman, novel indah dengan kisah cinta yang membuat hati terlena, dipadu-padankan dengan kasih dari pemikiran logis manusia. Ya, begitulah kiranya gambaran “kharisma” dari novel buah karya penulis legendaris, Harper Lee. Novel yang merupakan draft awal To Kill a Mockingbird ini memang sangat mengesankan, tak ayal bila angka penjualan novel ini pun kini telah menorehkan rekor dunia. Novel ini dipublikasikan di bulan Juli 2015 oleh penerbit William Heinemann, London. Barulah di bulan September 2015, Penerbit Mizan menerjemahkan, mencetak, dan mempublikasikan novel Go Set A Watchman di Indonesia.

Jean Louise Finch, sang aktor utama, peranannya begitu kental di novel ini. Nama Jean Louise memang sedikit asing, bahkan bagi yang sudah membaca novel To Kill a Mockingbird sekalipun pasti akan bertanya-tanya mengenai sosok Jean. Hal ini dikarenakan dalam novel To Kill a Mockingbird, Jean kerap kali dipanggil dengan nama Scout: nama panggilan saat ia masih kecil. Scout Finch, seorang anak gadis tomboy selalu mengenakan celana monyet dan membawa senapan, berubah menjadi Jean Louise Finch, seorang wanita yang memiliki akal sehat.

Setelah menginjak usia 20-an, ia pun memilih untuk tinggal di New York dalam rangka pencarian jati diri dan meninggalkan kampung halamannya, Maycomb County. Selama di perantauan, ia merasakan menjadi makhluk asing yang tinggal di daerah antah-berantah, ia pun sangat merindukan kampung halamannya. Namun, di perjalanan pulang tahunan kelimanya, ia mendapati bahwa dirinya pun telah menjadi makhluk asing di kampung halamannya sendiri. Bukan karena perubahan pada dirinya, melainkan perubahan yang terjadi pada keluarga serta orang-orang terdekatnya.

Harper Lee

“Kalau kau tidak punya banyak keinginan, hidupmu selalu berkecukupan.”
(Jean Louise Finch, #GoSetAWatchman)

Atticus Finch, ayahnya, menjadi orang yang paling ia cintai sekaligus ia benci. Rasa bangganya kepada sang ayah karena pernah dengan gagah berani membela keadilan bagi kaum Negro, seketika runtuh tatkala melihat ayahnya bergabung dan mendukung gerakan perlawanan terhadap kaum Negro. Begitu pula terhadap Hank alias Henry Clinton, teman semasa kecil Jean Louise yang pernah ia cintai karena adanya “kesamaan” di antara mereka, mendadak ia lihat menjadi orang yang berbeda ketika memiliki paham yang sama dengan ayahnya.

Dr. Finch, pamannya, pun tak luput dari badai perubahan yang terjadi. Dr. Finch yang memaklumi perubahan-perubahan yang terjadi di Maycomb County memang membuat Jean Louise semakin kesal untuk tinggal di kampung halamannya tersebut, padahal baru dua hari ia tinggal dan menetap. Namun akhirnya pamannya juga lah yang meluluhkan hatinya untuk menerima segala perubahan yang telah terjadi di Maycomb County. Mungkin hanya bibinya, Alexandra Finch, yang tidak mengalami perubahan yang signifikan: ia masih menjadi wanita tua yang menyebalkan karena nasehat dan omelannya yang selalu menjengkelkan Jean Louise.

Jean Louise Finch adalah sosok wanita egosentris yang lugas dalam bersikap maupun berkata. Ia tak segan untuk mengambil jalan sulit dalam mengatasi suatu masalah, walaupun sebenarnya banyak tersedia jalan mudah yang dapat ia tempuh. Baginya, sesuatu yang salah adalah salah, tak peduli apa alasan di balik kesalahan tersebut.

Review Novel Go Set A Watchman

 

“Bukan karena di sini hidupmu dimulai. Karena di sinilah orang-orang lahir dan lahir dan lahir sampai mendapatkan hasil akhir berupa kamu, minum Coke di Jitney Jungle.”
(Jean Louise Finch, #GoSetAWatchman)

Go Set A Watchman vs To Kill a Mockingbird

Novel Go Set A Watcman yang merupakan draft awal dari novel To Kill a Mockingbird, menyajikan kejutan-kejutan yang tak terduga oleh para pembacanya. Mulai dari perubahan-perubahan yang tadi sempat diceritakan, beberapa tokoh inti di novel To Kill a Mockingbird, tidak mendapatkan porsi yang sama di dalam novel Go Set A Watcman.

Jem Finch adalah kakak laki-laki dari Jean Louise Finch alias Scout, dan juga menjadi teman sepermainannya saat ia kecil. Dia pun menjadi salah satu tokoh penting di novel To Kill a Mockingbird, namun Jem dikisahkan telah meninggal di novel Go Set A Watchman. Memang ada beberapa penggal kisah yang menceritakan Jem, tetapi porsinya tidak terlalu penuh seperti pada novel To Kill a Mockingbird.

Charles Baker Harris atau Dill, merupakan tokoh yang memainkan peran cukup vital di novel To Kill a Mockingbird. Namun kisahnya hampir tak diceritakan di novel Go Set A Watcman, hanya ada beberapa dialog saja yang mempertanyakan keberadaan Dill yang hilang bagaikan ditelan bumi.

Walaupun begitu, novel Go Set A Watcman menghadirkan tokoh-tokoh yang kelak akan abadi dalam ingatan setiap para pembacanya, misalnya seperti: Dr. Finch dengan ilmu filsufnya dan Hank alias Henry Clinton dengan cinta sejatinya kepada Jean Louise Finch.

220px-Harper_Lee_Medal

“Yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, Jean Louise, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nurani.”

Harper Lee, Go Set A Watchman.

Simpulan dan Kesan 

Novel Go Set A Watchman, mengajak para pembacanya memahami pemahaman dasar antara cinta dan logika. Ya, berat rasanya mengaitkan cinta dan logika, tetapi, novel ini mampu menyajikannya dalam satu sambungan kisah yang menarik dan membuat pembaca memahahi keberkaitan antara keduanya.

“Jatuh cinta adalah perkara ya atau tidak. Cinta bukan satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Ada banyak macam cinta, tentu, tapi semuanya sama-sama menghendaki jawaban ya atau tidak.”
(Jean Louise Finch, #GoSetAWatchman)

Go Set A Watcman hadir bagaikan hembusan angin segar bagi para penggemar karya penulis legendaris, Harper Lee. Kenikmatan yang didapatkan saat membaca novel To Kill a Mockingbird, dibuat hidup kembali oleh novel yang berkisar 300-an halaman ini. Pantaslah jika penghargaan Presidental Medal of Freedom 2007 dan The Highest Civilian Honor USA dianugerahkan kepada Harper Lee.  Berkat dua novelnya yang fenomenal ini juga, Harper Lee pantas dinobatkan sebagai penulis terbaik sepanjang masa.

Semoga saja kelak, akan lahir penulis-penulis baru yang berkualitas seperti Harper Lee, alangkah lebih baiknya penulis tersebut lahir dari bangsa Indonesia. Kita doakan saja. 🙂

Penjaja Kata

(Visited 95 times, 1 visits today)
Novel Go Set A Watchman; Antara Cinta dan Logika
Bagikan ke:

2 thoughts on “Novel Go Set A Watchman; Antara Cinta dan Logika

  • December 13, 2015 at 8:11 am
    Permalink

    Suka sama quotes2 nya itu. Nanti beli ah kalo ada rezeki. 🙂

    Reply
  • December 13, 2015 at 4:24 pm
    Permalink

    Kalo gak punya keinginan ya bukan manusia. :d

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *