Napak Tilas Konferensi Asia Afrika Bareng Goodreads Indonesia. Masih terasa hingga saat ini hingar-bingar yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya oleh masyarakat Bandung, yang menyelenggarakan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afria. Apalagi jika kita iseng melakukan pencarian dengan hashtag #KAA2015 di beberapa media sosial seperti Twitter, Facebook, ataupun Instagram, tentu akan ditemukan ribuan foto dan ungkapan rasa dari orang-orang yang menyaksikan secara langsung maupun tidak langsung, peringatan 60 tahun KAA yang disiapkan dengan mewah dan meriah oleh pemerintah kota Bandung dan Jawa Barat beserta sejumlah elemen masyarakat yang ikut terlibat.

Konferensi Asia Afrika adalah salah satu peristiwa historis yang sangat luar biasa yang pernah terjadi di kota Bandung. Bahkan, untuk menghargai nilai sejarahnya, semua bentuk peninggalan KAA dari tahun 1955 masih utuh dan terpelihara dengan baik di beberapa tempat di kota Bandung, salah satunya di Museum Konferensi Asia Afrika dan Gedung Merdeka.

Napak Tilas Konferensi Asia Afrika, sebuah acara yang dipersembahkan sebagai bentuk perayaan 8 tahun Goodreads Indonesia; sebuah komunitas memiliki kesamaan paham dalam menggemari aktivitas membaca. Acara ini merupakan gabungan antara aktivitas yang berbau olah otak dan olah raga, karena selain menambah wawasan seputar sejarah KAA, para peserta pun diajak untuk berjalan kaki lebih dari lima kilometer dalam menyusuri setiap peninggalan sejarah yang berkaitan dengan peristiwa historis yang melahirkan Dasasila Bandung tersebut.

Goodreads Indonesia Di Taman Lansia
Taman Lansia Bandung

 

Prepare Acara Napak Tilas KAA
Pembukaan Acara Napak Tilas KAA

 

Kang Samudro, perwakilan dari Public Educator (PEC) SMKAA, menjadi tour guide yang dengan setia menemani dan memberikan informasi secara lengkap kepada para peserta acara Napak Tilas KAA. Selain anggota Goodreads Indonesia yang berdomisili di Jakarta, anggota Goodreads yang berdomisili di Bandung serta beberapa orang rekanan dari pihak sponsor, menjadi peserta yang menikmati berlangsungnya acara yang menarik dan bermanfaat ini.

Kang Samudro Public Educator
Kang Samudro, Dua Wanita, & Museum Geologi

 

 

Gedung Dwi-Warna yang letaknya tak jauh dari Taman Lansia, menjadi lokasi pertama yang dikunjungi. Gedung ini merupakan gedung yang digunakan untuk diskusi oleh para delegasi dari negara-negara yang diundang, untuk membicarakan mengenai topik yang akan dibahas pada saat konferensi diselenggarakan. Lalu berlanjut menuju ke Gedung Sate untuk mengabadikan momen kebersamaan para peserta, dan dilanjutkan ke Kampung Gempol yang merupakan kompleks perumahan pribumi yang bekerja sebagai  pegawai rendahan di Gedung sate.

Perjalanan Menuju Gedung Dwi-Warna
Perjalanan Menuju Gedung Dwi-Warna
Gedung Dwi-Warna
Gedung Dwi-Warna
Foto Bareng Di Gedung Sate
Foto Bareng Di Gedung Sate
Bangunan Tua Di Kampung Gempol
Peserta Memotret Bangunan Tua Di Kampung Gempol

Perjalanan pun berlanjut ke jalan Banda dan daerah sekitarnya, daerah ini dikenal dengan gedung dan tempat bersejarah peninggalan sisa kolonial: Gereja Alabanus (Tempat Perkumpulan Teosofis), Bangunan Jaabeurs (Pasar Tahunan), Taman Maluku (Spot Favorit Tuan & Noni Belanda), Gedung Kodam Siliwangi (Kediaman Bala Tentara Hindia Belanda), dan Gedung SMA 3 & 5 Bandung (Bekas Bangunan HBS “Hoogere Burgeshool“).

Gor Saparua Bandung
Gor Saparua Bandung
Gedung Jaarbeurs
Gedung Jaabeurs

Perjalanan dilanjutkan menuju ke jalan Nias-jalan Jawa-jalanMerdeka, di mana di lokasi tersebut terdapat gedung Katedral Santo Petrus bergaya Neo-Gothic yang dibangun tahun 1921, Gedung Markas Polwiltabes Bandung (Bekas Gedung Sekolah Guru Kaum Pribumi “Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzern“), dan Balai Kota atau dalam bahasa Belanda berarti “Gemeente Huiss” yang bernilai sejarah dan memiliki nilai arsitektur klasik yang tinggi di kota Bandung pada masanya.

Para peserta memang tidak berlama-lama menikmati lokasi-lokasi tersebut, karena keterbatasan waktu, penjelasan dari sang tour guide dan momen-momen yang diabadikan oleh mata kamera menjadi saksi bisu perjalanan Napak Tilas KAA yang telah mereka lakukan. Gedung Indonesia Menggugat (GIM), tempat di mana Bung Karno menyampaikan pledoi “Indonesia Menggugat” yang fenomenal, menjadi tempat rehat sesaat para peserta sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi terakhir yaitu Museum Konferensi Asia Afrika dan Gedung Merdeka.

Gedung Indonesia Menggugat
Gedung Indonesia Menggugat

Di lokasi terakhir acara Napak Tilas KAA ini, para peserta disambut oleh rekan-rekan dari Public Educator (PEC) dan Asian Africa Reading Club (AARC) yang tergabung dalam sahabat  Museum KAA (SMKAA). Para peserta pun diajak untuk berkeliling museum dan “mencicipi” segala jenis hidangan yang tersaji di Museum Konferensi Asia Afrika dan Gedung merdeka, baik itu yang berbenda maupun yang tidak berbenda seperti atmosfir perjuangan yang terasa mendebarkan saat para peserta duduk di kursi yang tempo hari sempat diduduki oleh para petinggi negara dunia, baik itu KAA di tahun 1955 maupun di tahun 2015.

Museum Konferensi Asia Afrika
Museum Konferensi Asia Afrika

 

Gedung Merdeka
Gedung Merdeka

Makan siang bersama dan menikmati keseruan kuis berhadiah dari sponsor, menjadi rangkaian terakhir dari acara Napak Tilas Konferensi Asia Afrika. Walaupun perjalanan yang dilakukan dengan berjalan kaki ini membuat para peserta kelelahan, tetapi suasana kota Bandung yang indah nan cerah, yang dipadukan dengan nilai historis peninggalan KAA tahun 1955, dapat menjadi obat penawar lelah bagi para peserta acara Napak Tilas KAA. 🙂

Penjaja Kata

(Visited 143 times, 1 visits today)
Napak Tilas Konferensi Asia Afrika Bareng Goodreads Indonesia

3 thoughts on “Napak Tilas Konferensi Asia Afrika Bareng Goodreads Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *