D’lloyd, salah satu grup musik lawas yang ┬ámemiliki karya-karya berkualitas baik.

Kesenangan saya mendengarkan berbagai genre musik membuat otak saya dalam memproses feel dalam bermusik dapat berkembang, sedikitnya saya dapat membedakan perbedaan yang begitu banyak timpang antara lagu-lagu lawas dengan lagu-lagu baru, baik itu dari segi pemilihan kata pada lirik maupun nada dalam musik.

Dari segi diksi atau pemilihan kata, kita dapat lihat perbedaan yang sangat mencolok, baik itu hanya untuk pemilihan judul saja ataupun yang ada didalam lirik lagu. Kata-kata yang ada dalam lagu-lagu lawas terkesan begitu memiliki mutu dan memiliki ciri khas bahasa Indonesia yang baik dan benar, makna dan pesan tersirat dari liriknya pun begitu memiliki nilai moral yang cukup berbobot.

Dari segi pemilihan nadanya pun lagu-lagu lawas masih ada pada posisi utama, nada-nada yang para musisi senior kemas dalam musik-musik yang mereka ciptakan memiliki orisisnalitas tinggi. Terbukti, lagu-lagu para musisi senior acap kali akrab ditelinga, bahkan untuk pasar kaum muda masa kini.

Berbanding 180 derajat dengan musik-musik yang diciptakan baru-baru ini, unsur pornografi dan plagiatisasi adalah hal yang sudah lumrah dan menjadi santapan bagi masyarakat. Hampir tidak ada musik yang menyajikan balutan harmoni dari sebuah nada yang menenangkan jiwa dan pesan moral yang dapat diterima oleh rasa, keseluruhan musiknya diciptakan hanya untuk sekedar menjadi hiburan, tanpa ada embel-embel lain.

Plagiatisasi juga menjadi faktor lain yang harus kita perhatikan, bukan memplagiatkan musik dari luar negeri saja, musik dalam negeri pun banyak yang diplagiatkan menjadi suguhan musik yang “terdengar baru”. Sungguh ironi, sebuah karya kreatifitas tidak seharusnya meniru karya kreatifitas dari sumber lain, karena akan membatasi proses eksplorasi daya pikir kita dalam berkreasi menciptakan sebuah karya.

Dewasa ini, istilah yang sering digunakan dan memang menurut saya adalah sebuah bentuk plagiat di dunia musik adalah “recycle“, sebuah prosesi yang biasanya dilakukan calon artis baru atau artis yang kurang laku masuk kedalam belantika musik. Jika lagutersebut hanya untuk dinyanyikan saja tentu tidak apa, tetapi jika lagu tersebut dijadikan sebuah “pemancing” kesuksesan di dunia musik itu yang kurang relevan dengan proses kreatifitas dalam berseni musik.

Setiap orang memang memiliki hak pribadi dalam berkarya di bidang musik, namun jangan lupa kewajibannya agar bisa memberikan karya yang tidak hanya menghibur juga bisa memberikan pembelajaran yang baik bagi para penikmatnya. Musik ibarat sarana yang memberikan fasilitas yang lengkap bagi manusia dalam proses penempaan mental, melalui musik manusia bisa merasakan berbagai perasaan baik itu nyaman, sedih, bahagia, dlsb. Sehingga sudah sepatutnya musik harus berkualitas, dari segi nada maupun kata yang berkolaborasi menciptakan irama yang merdu.

Semoga benar dan dapat bermanfaat, salam pecinta musik Indonesia.

Penjaja Kata

(Visited 29 times, 1 visits today)
Musik Lawas VS Musik Baru
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *