Mudik (Menjadi Udik), Penjaja Kata. Mudik itu kependekan dari menjadi udik, menurut gue sih. Mengapa? Jelas karena tujuan orang mudik mayoritas dari kota ke kampung, nah kalau dari kampung ke kota namanya urbanisasi. Haha…

Terlalu kejam memang mengkonotasikan udik dengan kampung, maka dari itu diciptakanlah kata mudik untuk menghaluskan kata udik yang agak kurang sedap terdengar. (Jangan percaya. πŸ˜€ )

Di lebaran fitri 2014 kemarin,Β gue pun mengalami mudik alias menjadi udik. Sebenarnya ada 4 kampung yang gue kunjungi (Maklum punya koleksi 4 pasang kakek & nenek. Hehe), tapi dalam postingan ini gue munculkan pengalaman mudik gue yang terakhir di kampung Ciguludug di daerah gunung halu, Bandung barat.

Kalau ada yang tahu gunung padang yang sedang naik daun dengan situs purbakalanya, daerah yang gue kunjungi ini tetangga jauhnya lah. Sayangnya didaerah ini engga ada situs purbakalanya, paling cuma kakek dan nenek gue yang terlihat bagai situs purbakala. ( Kek, nek, maaafkan cucumu ini. :'( Β )

IMG_1223
Memperkenalkan kandang kambing sejak dini sama keponakan. πŸ˜€

Jadi di tempat ini gue merasa back to nature. Menikmati makanan & minuman minimalis, menggunakan jamban serbaguna beratap langit, dan menikmati aroma perkebunan teh juga peternakan kambing, pokoknya natural deh.

IMG_1226
Jamban all in one beratap langit.

Akses jalan? Jangan ditanya, akses jalan menuju kediaman kakek gue cukup bagus. Ya maksudnya cukup bagus untuk merusak ban motor gue pake karena jalannya diaspal menggunakan bebatuan. Selain itu jalannya berkelok-kelok+naik turun pula, ditemani jurang-jurang berhiaskan pemandangan perkebunan teh yang di hybrid dengan perkebunan pisang cukup membuat perjalanan semakin dramatis. ^_^

IMG_1203
Antara perkebunan hybrid, teh dan pisang.

Belum lagi beban dari barang bawaan yang membuat jerih payah menjadi seorang pengendara motor terasa luar biasa, pokonya perjalanan yang tak mudah lekang oleh waktu, karena lelahnya pun masih terasa satu minggu kemudian. -_-

Mudik is unforgettable moments. Mudik adalah momen yang hanya dapat dan harus dinikmati satu tahun sekali, soalnya kalau terlalu sering kita nikmati nanti bisa menyebabkan kebosanan akut. πŸ˜€

Memang kegiatan tahunan ini sering sekali membuat repot para pemudik, tetapi momen-momen seperti inilah yang bisa membuat semangat hidup kita kembali fitri, jadi kalau tidak mengalami mudik berarti ibadah puasa kita masih kurang sempurna. Hehe

Intinya mudik sebagai salah satu proses silaturahmi denganΒ sanak saudara harus selalu kita lakukan, walaupun setiap tahun tujuannya tetap sama tapi pasti disetiap tahunnya akan selalu ada pengalaman yang menarik. Walaupun mengalami kecopetan itu juga cukup menarik, apalagi kalau hati kita yang dicopet pasti seneng banget kan. wkwkwk

Sekian cerita gue dari kampung air dan halilintar, Ciguludug (Ci = Air & Guludug = Halilintar, bahasa sunda). Semoga kekejaman kehidupan urban tidak merusak ekosistem di tempat tinggal kakek gue ini. (Diperjalanan sudah ada gunung tinggal sisa 1/2, katanya sih dipake ngebangun rumah di kota. :'( ). Mari doakan semoga para “oknum” manusia perusak alam diberikan kesadaran akan perbuatan buruknya. Aamin

Sandra Nurdiansyah

 

(Visited 111 times, 1 visits today)
Mudik (Menjadi Udik)
Bagikan ke:
Tagged on:                         

12 thoughts on “Mudik (Menjadi Udik)

  • August 8, 2014 at 4:56 pm
    Permalink

    Oh di Ciguludug Gunung Halu. Hati-hati diserang Kerajaan Bumi.

    Enak yg bisa mudik mah, saya mah tinggalnya udah dari lahir di kampung halaman. Kudu nikah dulu sama bule, biar bisa mudiknya ke luar negeri.

    Reply
    • August 9, 2014 at 4:17 am
      Permalink

      Saya juga dari lahir di kampung, Kang. Tapi kebetulan kuliah di kota, jadi pas malem takbiran nginep di kampus terus pagi pulang ke rumah. Itu bisa jadi opsi buat kang Arif kalo mau nyoba mudik, anggap aja mulat alias mudik kilat. wkwkwk

      Reply
      • August 9, 2014 at 4:34 am
        Permalink

        Ah kalau nginep di kampus, pulangnya macet euy lewat Cileunyi. Jatinangornya juga sepi ah.

        Reply
  • August 12, 2014 at 1:21 pm
    Permalink

    Itu jalannya masih asli tanah liat sama bebatuan gitu?
    Gunung tinggal sisa 1/2? Bentuknya bagaimana?
    Asyik ya, bisa mudik ke empat daerah. Hehe.. Pasti sangat seru.

    Reply
    • August 13, 2014 at 2:37 am
      Permalink

      Iya, sayang memang daerah2 perkebunan di sini tidak dikelola dengan baik dari segi infrastrukturnya, soalnya pembangunan terlalu banyak terpusat di daerah perkotaan. Hehe
      Wah susah kalau dijelaskan melalui kata2. Ibarat nasi di warteg diminta & dibelah sama teman kita, jadi engga puas kan menikmati makannya? wkwkwk
      Iya seru, saya merasa jadi avatar kartun yang mengunjungi 4 negara. haha πŸ˜€

      Reply
      • August 13, 2014 at 2:44 am
        Permalink

        Padahal bagus.. Semoga ada yang sadar buat ngelola biar jadi lebih baik lagi, ya.
        Hhe,, iya tuh ga puas banget. Bayanganku sih gunungnya jadi aneh gitu, seperti segitiga siku.
        Hoho, mirip avatar ya..? πŸ˜€

        Reply
        • August 14, 2014 at 1:54 am
          Permalink

          Amin, iya sih bisa di bilang mirip segitiga siku2 juga, nanti coba tak fotoin deh supaya jelas. Engga mirip juga sih, hanya mencoba memirip-miripkan. haha

          Reply
          • August 14, 2014 at 4:23 am
            Permalink

            Hahaha. Lucu deh kalau bener ada gunung mirip segitiga siku-siku. Oke sip. Pada posting selanjutnya gitu, ya, mau nulis ‘nasib gunung yang malang’? Hehe.

          • August 15, 2014 at 6:34 am
            Permalink

            Iya bagus tuh, sekaligus saya mau nulis ini nih “nasib blogger gagal naik gunung di Malang” karena libur semester sudah berakhir. hehe :’)

          • August 15, 2014 at 12:34 pm
            Permalink

            Nah tuh. Ditulis aja (y)
            Wah, sudah berakhir ya liburan semesternya? Wah, di waktu lain mungkin bisa menyempatkan naik gunungnya. πŸ˜€
            Semangat ya.

          • August 17, 2014 at 4:49 am
            Permalink

            Iya, amin. Terima kasih ya. πŸ˜€

          • August 17, 2014 at 12:55 pm
            Permalink

            Sama-sama. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *