Kring…kring…kring…

Hampir tiap jam 3 shubuh alarm BB Nan berbunyi seraya membangunkanya untuk segera melakukan sholat tahajud dan selanjutnya makan sahur,  memang hampir setiap hari biasa dia melakukan sholat tahajud dan di hari ketiga puasa ramadhan ini dia tidak merasa berat untuk bangun jam segitu karena memang sudah menjadi kebiasaan.

Blackberrynya lah yang setia membangunkan disetiap hari karena memang tak terdengar kokok ayam di kosannya, maklum dia ngekost di daerah komplek jadi jarang sekali orang yang memelihara ayam jantan di komplek. Berada nun jauh dari kampung halaman dan juga keluarga di kota pempek untuk merantau ke kota peuyeum kadang-kadang membuat dia merasa rindu semuanya, namun hal positifnya adalah dia bisa belajar betapa sulitnya hidup bergantung pada kemampuan diri sendiri.

Bangun harus ngandelin hp, makan harus ngeluarin dana sendiri, nyuci baju harus pake jasa laundry dan yang paling menyedihkannya adalah dia tidak bisa merasakan kehangatan keluarga nya di bulan ramadhan ini. Memang hal ini hanya berlangsung sekitar 2 mingguan diawal bulan ramadhan, memang karena Nan saat ini sedang mengambil beberapa mata kuliah di semester pendek sehingga hal itu mengharuskannya tinggal beberapa saat jauh dari kampung halaman. Selama dia berada dikota yang baru pertama dia jajaki ini memang banyak dia dapatkan perubahan yang terjadi pada dirinya, baik itu dari segi sikap maupun akademisnya di perkuliahan.

Sekilas tentang masa lalunya ketika dia masih berseragam putih abu-abu dan bersekolah di kampung halamannya, dia termasuk siswa yang badung, bandel, urakan baik itu di sekolah maupun dirumah. Disekolah banyak kejahilan-kejahilan yang sering dia lakukan kepada teman-temannya maupun pada gurunya, sontak beberapa guru memblack listnya atas perbuatannya tersebut.

Tetapi dibalik kekurang ajarannya dia memiliki otak yang lumayan cemerlang, dia pernah menjuarai beberapa perlombaan dalam bidang fisika. Namun memang karena hal-hal negatif adalah hal-hal yang paling teringat di otak manusia dibandingkan hal-hal positif, tetap saja guru-gurunya tidak percaya akan hasil yang telah diperoleh oleh Nan dan lebih percaya itu semua terjadi hanya karena faktor keberuntungannya saja. Dirumah pun dia sama onarnya dengan saat dia disekolah, orang tua dan kakaknya pun sering beradu argumen dengan makhluk yang satu ini.

Betapa sedihnya seorang orang tua apabila memiliki anak seperti ini, sepertinya para orang tua telah gagal menjadi seorang “Guru” terbaik bagi anak-anaknya apabila anaknya menjadi liar. Tidak dapat dipungkiri memang penyebab hal tersebut tidak lain tidak bukan adalah faktor didikan dari orang tua ataupun faktor lingkungan yang memaksanya, sehingga semua dampak yang jelek kurang dapat ternetralisir.

Namun pada akhirnya Nan berubah sangat berbeda 180 derajat dari yang dulu, dia menjadi orang yang lebih santai, legowo, dan taat beragama kali ini. Tak tahu siapa yang bisa membuatnya mejadi berubah seperti itu, yang pasti memang karena kemauan sendiri dari dia yang mendorongnya untuk berubah.

Mungkin semua terjadi karena dia mulai beranjak masuk ke bangku kuliah, memang pada saat-saat kuliah adalah masa bergantinya cara pola fikir seseorang dari awalnya pola fikir seorang siswa yang bisa dibilang hanya disuapin oleh sang guru, menjadi seorang mahasiswa yang harus selalu berfikir mandiri baik dalam segi akademis maupun non akademis.

Faktor inilah yang mungkin merubah seorang Nan menjadi sosok yang baru, sehingga perilaku-perilaku dia di masa lalunya yang agak menyimpang dapat dia tekan untuk tidak terjadi kembali dalam kehidupannya kali ini menjadi makhluk yang baru. Peran salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang bergerak dalam bidang agama pun menjadi andil dalam perubahannya, memang dia pun bergabung dengan organisasi tersebut dan banyak sekali pemahaman-pemahaman agama yang dia dapatkan dari sana. Memang hal-hal yang terjadi ini membanggakan, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi keluarganya.

Hal yang paling terasa antara lain adalah perubahan yang dia lakukan dalam segi religius, dia menjadi lebih rajin sholat wajib maupun sunahnya, kadang-kadang menyepatkan diri untuk puasa sunah, dapat mengenal lebih dalam tentang agama terutama agamanya yaitu agama islam, dan pemahaman akan semua hal-hal atau perbuatan yang harus dia lakukan dan harus berlandaskan ajaran agama islam.

Apalagi bulan yang penuh berkah pun kini telah tiba, gairah Nan dalam beribadah pun semakin terpacu untuk bisa mendapatkan pahala yang terbaik. Walaupun terpisah jauh ratusan kilometer dari keluarganya dan diminggu-minggu awal harus merasakan ramadhan sendirian, mungkin prinsip kantong mahasiswa pun akan diterapkan pada saat makan sahur dan buka puasa yaitu “seadanya”.

NB: Dalam kumpulan FTS buku antologi “Ramadhan Di Rantau #2” terbitan Penerbit Harfeey.

Penjaja Kata

(Visited 9 times, 1 visits today)
Metamorfosis di Tanah Rantau
Bagikan ke:
Tagged on:                     

2 thoughts on “Metamorfosis di Tanah Rantau

  • September 18, 2012 at 6:00 am
    Permalink

    SubhALLAH mong, teruskan potensimu. semoga gusti Alloh memberikan kenikmatannya agar loe dapat mengembangkan sebuah nikmat-Nya dan semoga Allah swt me-rahamatimu.

    Reply
    • September 18, 2012 at 11:46 am
      Permalink

      Amin,, hatur nuhun buat doanya ki..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *