Tentu mayoritas masyarakat Indonesia akan mengetahui siapa Sri Krishna. Seorang manusia titisan dewa yang memiliki sifat-sifat arif, luhur, dan bijaksana. Sri Krishna, sang anak gembala begitu riang gembira tatkala mengembalakan sapi-sapinya di ladang. Sembari meniup seruling untuk menghibur diri beserta sapi-sapinya.

Dewasa ini Sri Krishna sering tampil dalam tayangan sekuel di salah satu stasiun televisi swasta nasional, baik tampil dalam sosok manusia maupun kartun. Secara historis Krishna merupakan perwujudan dari dewa Wisnu, salah satu bagian dari dewa trimurti dalam agama hindu.

Namun tahukah Anda, di Indonesia ada sosok yang hampir menyerupai beberapa ciri khas dari Sri Krishna? Jawabannya, ada. Dia adalah Maman Suparman atau lebih akrab dengan panggilan Mang Parman.  Seorang anak gembala dari kota Subang, bukan menggembala sapi melainkan menggembala munding atau kerbau.

Untuk menghibur diri di sela-sela menggembalakan kerbau beliau memainkan toleat, alat musik sederhana buatannya yang kini menjadi masterpiece . Toleat adalah sejenis  alat musik tiup (aerophone) yang memiliki bentuk fisik sama dengan suling atau seruling, salah satu alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari kota Subang.

Toleat ciptaan Mang Parman memiliki filosofi yang sangat luar biasa, bahwasannya kebahagiaan itu hadir dari kesederhanaan diri membaur bersama alam anugerah tuhan. Bukan atas dasar modernisasi demi mengejar kekayaan duniawi semata. Hal lain yang diajarkan adalah semangat berinovasi dan berkreatifitas tidak harus memandang ketersediaan alat dan bahan yang mumpuni.

Ti sawah balik ka sawah atau dari sawah kembali ke sawah, sebuah kata-kata mutiara yang terngiang dari jiwa sang maestro toleat asal Subang.  Kata-kata tersebut layaknya sebuah anomali bahwa manusia yang tercipta dari tanah, kelak akan kembali menjadi tanah.

Ada hal menarik lain yang membuat kehidupan Mang Parman semakin mirip dengan cerita Sri Krishna, yaitu kegemarannya untuk menikah. Setahu penulis Krishna memang beberapa kali menikah, lalu berdasarkan keterangan dari salah seorang kerabat Mang Parman bahwa beliau pun gemar menikah.

Bahkan muncul pendapat di kalangan para seniman Subang, bahwa gemar menikah adalah salah satu penyakit yang menimpa para seniman toleat. Namun itu hanyalah sebait intermezzo yang penulis dapatkan saat berkunjung pada acara diskusi mengenai toleat di kota Subang.

8 Desember 2012, Mang Parman telah berpulang ke rahmatullah dalam naungan kesederhanaan. Hidup dan mati Mang Parman memang tidak pernah jauh dari area pesawahan. Sri Krishna Indonesia memiliki kearifan, keluhuran dan kebajikan hidup yang luar biasa. Semoga sifat-sifatnya tersebut dapat selalu terngiang di telinga manusia dari bunyi toleat yang ditiup dan menyebarkan kearifan, keluhuran, dan kebijaksanaan ke seluruh penjuru negeri.

Penjaja Kata

(Visited 58 times, 1 visits today)
Mang Parman, Sri Krishna Indonesia.

2 thoughts on “Mang Parman, Sri Krishna Indonesia.

  • October 18, 2014 at 5:03 am
    Permalink

    Undangan Menjadi Peserta Lomba Review Website berhadiah 30 Juta.

    Selamat Siang, setelah kami memperhatikan kualitas tulisan di Blog ini.
    Kami akan senang sekali, jika Blog ini berkenan mengikuti Lomba review
    Websitedari babastudio.

    Untuk Lebih jelas dan detail mohon kunjungi http://www.babastudio.com/review2014

    Salam
    Baba Studio

    Reply
    • October 18, 2014 at 5:23 am
      Permalink

      Baik. Terima kasih atas informasinya, bung.

      Regards,
      Penjaja Kata

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *