Pelestarian Budaya Indonesia melalui Film Pendek Fiksi End Of Black Era

Pelestarian Budaya Indonesia melalui Film Pendek Fiksi End Of Black Era

elestarian Budaya Indonesia melalui Film Pendek Fiksi End Of Black Era, Penjaja Kata. Media film menjadi media yang universal dalam penyampaian suatu pesan, serta edukasi pada masyarakat melalui media visual. Apabila sebuah film tidak memiliki pesan serta nilai edukasi di dalamnya, atau hanya sebagai hiburan belaka, film tersebut tentu tidak akan mudah dikenang dalam ingatan para penontonnya.

Selayang Pandang

End of Black Era – The Incident adalah sebuah film pendek yang diproduksi oleh costume designer Indonesia, Yuris Aryanna. Film ini ingin meningkatkan awareness kepada publik akan pentingnya peran costume dalam perfilman, juga ingin membantu pengrajin lokal Indonesia. Dengan melakukan research costume yang menggunakan bahan dari pengrajin lokal, diharapkan dapat meningkatkan daya jual dari produk-produk tersebut.

Film pendek ber-genre fiksi berdurasi yang tidak lebih dari 10 menit. Walaupun tidak berdurasi lama seperti film-film fiksi popular dunia, tetapi banyak pesan yang disampaikan melalui film ini. Khususnya dalam pelestarian tradisi dan budaya Indonesia, khususnya budaya tangible (berbenda) di antaranya tenun lurik dan kerajinan dari tembaga. Tenun lurik dijadikan padanan costume pemeran warga dan pemeran utama, sedangkan perhiasan tembaga dikenakan di telinga warga dan pemeran utama.

Bagikan ke:

3 Pelajaran Hidup dari Film Cinta Laki-Laki Biasa

3 Pelajaran Hidup dari Film Cinta Laki-Laki Biasa

3 Pelajaran Hidup dari Film Cinta Laki-Laki Biasa, Penjaja Kata. Setiap orang membutuhkan pembelajaran dalam menjalani kehidupannya, sumbernya pun beragam dan tidak harus berasal dari bangku pendidikan. Medium film dapat menjadi salah satu media yang dapat difungsikan oleh orang untuk mendapatkan pelajaran hidup, contohnya seperti dari film Cinta Laki-Laki Biasa yang telah tayang di bioskop mulai tanggal 1 Desember 2016.

Film pabrikan Starvision yang dirancang oleh Asma Nadia dan diarsiteki oleh Guntur Soeharjanto, sungguh sangat mudah membuat penontonnya tak henti untuk menitikkan air mata. Walaupun begitu, kisah yang disajikan bukanlah sekadar kisah picisan yang membuat tangisan tumpah belaka, ada 3 pelajaran hidup yang dapat diambil dari film Cinta Laki-Laki Biasa. Hal apa sajakah itu? Mari disimak ulasan berikut ini:

Bagikan ke: