Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah, masihkah kita ingat peribahasa tersebut? atau masihkah kita mengamalkan makna tersirat dibalik peribahasa tersebut?

Ya, makna peribahasa “tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah” itu memang berkonotasi dalam hal berbagi, berbagi yang berbentuk universal, tidak hanya terpatok pada hal semisal berbagi dalam bentuk uang saja. Berbagi menjadi sebuah kegiatan yang wajib dilakukan oleh manusia sebagai makhluk sosial, karena dengan berbagi maka akan meningkatkan kepedulian antar sesama manusia.

Apabila kita mawas diri terhadap lingkungan sekitar kita tentu akan banyak sekali orang-orang disekitar kita yang membutuhkan uluran tangan, uluran dana, dan uluran doa dari kita. Seyogyanya kita memandang hal demikian sebagai sebuah pemicu diri agar mau berbagi kepada mereka yang membutuhkan, bukan hanya kita jadikan iklan baris yang hanya membuat kita miris sekilas pandang saja.

Anak-anak, tidak sedikit para generasi penerus bangsa kita masih belum bisa menikmati fase dimana mereka belajar dan bermain sesuai dengan masa mereka, masa kanak-kanak. Tidak sedikit anak yang sudah harus merasakan bahkan ikut menanggung beban keluarga, ada juga anak-anak yang tersiksa oleh berbagai macam penyakit yang menyita waktu keemasan mereka untuk belajar dan bermain. Mereka inilah yang seharusnya kita bantu, bukan alasan karena mereka berbeda dengan anak-anak sebaya mereka lantas mereka pun diberikan perilaku yang berbeda. Mereka pun berhak mendapatkan perlakuan layaknya anak-anak normal lain, selain oleh keluarga faktor lingkungan pun turut membantu tumbuh kembang mereka dalam dunia sosial.

Banyak hal yang dapat kita bagi kepada para anak-anak yang kurang beruntung tersebut, baik itu yang bersifat materil maupun non materil. Salah satu contohnya adalah ilmu, ilmu adalah kendaraan bagi manusia untuk mengarungi samudera kehidupan, dunia dan akhirat. Ilmu memang merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia agar dapat memupuk dirinya menjadi lebih baik.

Buku adalah gudangnya ilmu, tidak dapat kita pungkiri bahwa berbagai macam sumber ilmu ada dalam bentuk sebuah buku, buku memang sebuah sarana terbaik dalam penyampaian dan penyebaran suatu ilmu  lebih luas. Maka dari itu, berbagi ilmu melalui sumbangsi berbentuk buku sangatlah baik dan bagus, karena kita berbagi ilmu yang dimana ketika kita mengamalkan sebuah ilmu maka ilmu kita pun akan semakin bertambah.

Tidak sedikit buku-buku pelajaran yang bersifat akademik maupun non akademik yang kita miliki tidak terawat dan tidak terbaca karena sudah membosankan ataupun kita malas untuk membacanya, daripada buku tersebut mubazir lebih baik kita sumbangkan, karena masih banyak diluar sana orang yang membutuhkan buku-buku tersebut untuk memperkaya wawasannya.

Selain itu mainan pun menjadi sebuah barang yang akan sangat berguna dalam memberikan kebahagiaan bagi mereka, alangkah baiknya mainan-mainan bekas kita yang tidak terpakai kita berikan kepada mereka daripada kita simpan didalam gudang ataupun dijual murah diloak. Tentu mainan-mainan yang kita anggap barang rongsokan tersebut dimata mereka adalah sebuah barang yang mampu menghadirkan kecerian untuk mengisi hari-hari mereka, ibarat dalam film Toy Story mainan pun ingin dimainkan dengan ceria oleh anak-anak bukan ingin disimpan dalam kardus dan karung lalu disimpan digudang ataupun dijual murah diloak demi beberapa lembar uang recehan.

Begitu indahnya berbagi ketika kita bisa memberikan barang-barang yang kita sukai kepada mereka yang membutuhkannya, mari bersama-sama kita songsong kebangkitan bangsa untuk menghidupkan kembali jati dirinya, yakni saling peduli dan saling bantu satu sama lain. Nouer Dyn

(Visited 6 times, 1 visits today)
Knowledge and Happiness with Hand in Hand
Bagikan ke:
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *