Dibalik terang cahaya mentari, memancar sinar yang menyilaukan dari paras Adinda tatkala dia tersenyum begitu senang.

Kakanda : Apakah yang membuatmu begitu gembira, duhai Adinda?

Kakanda bertanya dengan suara sedikit agak berat, mungkin faktor serak yang mengganggu kerongkongannya. Wajahnya pun tamapk pucat pasi.

Adinda : Hanya menikmati karunia tuhan yang menyingsing dari tabir matahari, belum sembuhkah dirimu, Kakanda?

Kakanda nampak menggelengkan kepala, sembari melantunkan senyum ramah.

Adinda : Istirahatlah yang cukup agar kesehatanmu kembali pulih, juga agar suaramu dapat kembali mengalun merdu menusuk kalbu.

Senyuman yang intim keluar dari rongga mulut Kakanda, menutup suara aneh yang ada dalam pipa kerongkongannya.

Kakanda : Baiklah aku akan kembali berbaring sejenak, aku salah telah mengkorupsi  manajemen waktu yang telah ditentukan oleh tuhan.

Adinda nampak kebingungan.

Adinda : Bagaimana maksudnya, Kakanda?

Kakanda : Tuhan sudah menyediakan 24 jam dalam sebuah kemasan hari, agar manajemen waktu manusia dapat lebih teratur dan digunakan dengan baik dan benar, tuhan menyarankan pembagian 3 atas waktu tersebut. Waktu untuk kebutuhan pekerjaan, kebutuhan istirahat, dan kebutuhan ibadah.

Adinda : Jadi, kesimpulannya Kakanda terlalu melebihkan waktu untuk bekerja, seperti itukah?

Kakanda : Tepat, semakin hari engkau semakin pintar, Adinda sayang. Jangan sampai engkau mengalaminya.

Adinda : Baik, Kakanda.

Adinda tersenyum simpul, pipinya mengembang sanggul.

Adinda : Segerakanlah istirahat, Kakanda. Jangan lupa meminum obat agar kondisimu kembali prima.

Setelah membalas senyuman Adinda, Kakanda kembali menuju kamar. Berjuang untuk mencoba menenangkan jiwa dan raganya, mengganti sinar bulan dengan cahaya mentari.

Nouer Dyn

(Visited 6 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part6
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *