Dalam dinginya sepertiga malam, desiran angin dingin hidupkan mata dan tubuh Kakanda yang tengah terlelap. Lantas, dia mengusap wajah dengan kedua belah tangan sembari mengucap untaian doa. Lalu dia turun dari pembaringannya, melangkahkan kaki untuk mengambil air suci yang dapat menghilangkan dahaga ibadahnya.

Adinda : Engkau akan bersembahyang, Kakanda?

Sambil mengusap matanya yang masih mengumbar kantuk, Adinda mengikuti jejak Kakanda.

Kakanda : Marilah, dalam waktu ini tuhan sedang memberikan sebagian besar hidayahnya. Jangan sampai kita sia-siakan untuk medapatkannya.

Adinda : Baik, Kakanda.

Menembus dinginya udara dan pekatnya kantuk yang mendera, persoalan cilik yang terkadang diumbar-umbar menjadi pelik oleh mayoritas manusia. Namun Kakanda dan Adinda mencoba menepisnya, mereka kerahkan semangat mereka untuk berbakti pada pemilik semesta alam.

Berbakti dengan mengabdi, mengagungkan, dan memuji pada diri-Nya. Kakanda dan Adinda begitu khidmat dan nikmat menjalankannya, nampak jelas dari rona cahaya yang berkilau dari wajah mereka.

Kakanda : Bagaimana perasaanmu kini, Adinda?

Adinda : Jauh lebih baik, jauh lebih bahagia.

Senyuman mereka mengakhiri cerita ini, namun tidak dengan tujuan cerita yang ingin mengingatkan akan begitu indahnya ibadah dalam sepertiga malam yang membawa banyak berkah.

Nouerdyn

(Visited 8 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part22
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *