Layangan itu pun terbang terbawa oleh arus angin, hinggaplah diatas genting kediaman sederhana Kakanda dan Adinda. Terdengar teriakan para anak yang menderu-deru dan langkah kaki yang menggebu-gebu.

Adinda : Hati-hati, anak-anak. Jangan berebutan seperti itu ya?

Namun mereka anak-anak, kuping mereka terkadang tertutupi oleh manisnya masa bermain yang sedang mereka nikmati, Adinda pun dapat memaklumi perbuatan mereka.

Anonim 1 : Ka, bolehkah aku mengambil layangan yang ada di atap rumah itu?

Anonim 2 : Jangan ka, jangan. Buatku saja ya?

Anonim 3 : Eh tapi itu layanganku!

Anak-anak itu bertengkar memperebutkan sebuah layangan tak pasti nasibnya, apakah kelak akan berada ditangan atau masih berada di genting tersebut. Adinda, dengan perasaan keibuannya mencoba melerai murka dari suasana.

Adinda : Eits, sudah-sudah jangan bertengkar. Sekarang kaka mau tanya, layangan tersebut berapa harganya? Pasti yang berhak atas layangan itu tahu harganya.

Tiba-tiba mereka terdiam sejenak, lalu berangsur menjawab.

Anonim 1 & 2 : Seribu, kak.

Salah seorang anak terlihat kebingungan, layaknya mengerjakan ujian.

Adinda : Mengapa kamu tidak menjawab?

Anonim 3 : Aku bingung, kak. Soalnya kakak bertanya harga layangan tersebut, tentu harganya sama dengan yang teman-teman sebutkan tadi. Tapi, di layangan itu ada benang yang aku beli juga, bahkan ikut terbawa oleh angin beserta layangannya. Tentu harganya berbeda kan, kak?

Adinda tersenyum manis, membuat sang anak pun mengikutinya. Sebuah jawaban atas pertanyaannya pun telah dikantongi, namun agar menjaga perasaan semua anak dia merahasiakannya.

Adinda : Baiklah, kakak sudah tahu layangan tersebut milik siapa. Lain kali, kalian tidak usah bersusah payah mengejar layangan putus yang jelas bukan hak kalian. Apalagi tindakan kalian dapat berujung kecerobohan yang bisa mempertaruhkan nyawa, jangan karena uang seribu kalian bertindak seperti itu ya?

Anonim 2 : Jadi kita harus bagaimana, kak?

Adinda : Menabunglah, sisihkan sedikit dari uang jajan kalian untuk membeli kebutuhan yang kalian ingin beli. Kalau pun kalian tidak memiliki uang, datanglah kemari dan akan aku berikan kalian uang, tapi ada syaratnya.

Serempak mereka menjawab.

Anonim : Bagaimana caranya, kak?

Adinda : Kalian belajar kerja, tapi bukan kerja ya, karena kakak tidak mau mempekerjakan kalian. 

Anonim 2 : Belajar kerja itu apa ka?

Adinda : Nanti kalian akan tahu, sekarang kembalilah bermain, ini ambilah.

Beberapa lembar uang diberikan secara adil kepada setiap anak, sejumlah yang cukup untuk membeli sebuah layangan. Terima kasih pun serempak mereka katakan. Mereka bertiga pun kembali bermain dengan perasaan yang riang gembira, namun beberapa saat Adinda mengungkap rahasianya kepada salah seorang anak.

Adinda : Nanti akan aku coba ambilkan layanganmu itu ya? Jangan bersedih.

Anonim 3 : Terima kasih.

Akhir cerita bahagia, semoga saja berkelanjutan bahagia pula.

Nouerdyn

(Visited 8 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part20
Bagikan ke:

7 thoughts on “Kakanda dan Adinda #Part20

  • June 21, 2014 at 2:31 pm
    Permalink

    mungkin akan lebih bagus jika dialognya ditulis seperti dialog lainnya di dalam sebuah cerita. hanya saran 🙂

    Reply
    • June 21, 2014 at 2:37 pm
      Permalink

      Saran yang sangat bagus, namun untuk saat ini tulisan ini sedang saya bangun dengan komposisi yang berbeda, hanya sebuah penelitian anak teknik bercitarasa sastra. 😀

      Reply
        • June 21, 2014 at 2:43 pm
          Permalink

          Terima kasih, oh ya sebelumnya salam kenal ya. 🙂

          Reply
        • June 21, 2014 at 2:50 pm
          Permalink

          Iya, terima kasih. Oh ya, sebelumnya salam kenal mba. 🙂

          Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *