Saat ini dia mulai terlihat bugar kembali, dia mulai bisa bersuara, menyuarakan suara khasnya.

Kakanda : Dia sudah sembuh, Adinda. 

Adinda hanya termenung, dibuai oleh indahnya suara tersebut. Akhirnya, Kakanda pun menyadarkannya dengan sentuhan manja.

Kakanda : Burung ini harus kita lepaskan, Adinda. Kehidupannya bukanlah disini, dia adalah makhluk bebas yang membutuhkan kasih sayang alam bukan manusia.

Adinda : Tapi sepertinya dia senang berada disini, Kakanda. Aku pun tidak ingin hal yang sama menimpanya kembali nanti, setidaknya dia mendapatkan hidup yang aman dan nyaman disini.

Kakanda nampak sedikit tidak tega, dua bait rasa iba menggelayuti hati dan pikirannya.

Kakanda : Bahkan kita manusia pun membutuhkan ujian dan cobaan  dalam hidup, agar dapat berubah menjadi lebih baik. Begitu pun dia, Adinda. Hal yang telah menimpanya adalah salah satu ujian hidup yang menimpanya, kita harus membiarkan dia menjalani hidupnya kembali.

Akhirnya Adinda mengerti, dia mengiyakan namun dengan kata yang berat. Burung, ya burung itu pun dikeluarkan dari sangkar yang mengurungnya. Dia terlihat masih sungkan untuk bersahabat dengan manusia, bahkan disentuh oleh Kakanda pun berkali-kali dia menghindar. Namun burung itu pun mengalah dalam genggaman Kakanda.

Kakanda : Tenanglah, aku hanya ingin mengembalikan kehidupanmu.

Sejenak Kakanda menatap Adinda yang masih terlihat belum rela.

Kakanda : Kita menemukannya bersama, kita pun harus melepaskannya bersama juga. 

Adinda menghampiri Kakanda, meletakan kedua belah tangannya bersama menggenggam jiwa yang akan segera bebas. Tak berapa lama burung itu pun terlepas, namun dia masih kesulitan untuk terbang seperti sedia kala. Adinda pun terkejut, seraya ingin menggapainya kembali.

Kakanda : Jangan, Adinda. Dia pasti bisa melakukannya sendiri, percayalah pada kemampuannya.

Seketika kedua belah sayapnya dapat mengepak dengan seirama, menerbangkan tubuhnya ke awang-awang, mengembalikannya menuju kehidupan dan alam. Adinda meneteskan air dari sudut matanya.

Kakanda : Lihatlah dia, dia sangat berbahagia. Lalu, alasan apa yang membuatmu tidak bahagia?

Adinda pun menyapu air matanya, juga menyapu sendu yang menderu dalam hatinya. Selamat jalan, bidadari kecilku.

Nouerdyn

(Visited 7 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part19
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *