Bulan, bercahaya pucat pasi bak seonggok nasi.

Kakanda : Malam ini, tahukah engkau  apa yang mengundang decak kagum mata hatiku, Adinda?

Adinda menggeleng sayu, namun bibirnya tersenyum sendu.

Kakanda : Tengoklah bulan sabit itu!

Bulan sabit, berbentuk begitu anggun. Anggun, karena berbentuk mirip dengan senyuman Adinda. Begitu tenang, indah, dan damai.

Adinda : Apakah gerangan yang membuat kekaguman menghampirimu, Kakanda? 

Kakanda tersenyum, tanpa aba-aba dia pun menyentuh bibir manis Adinda.

Kakanda : Senyumanmu itu, bagaikan bulan sabit benderang di langit kelam sana.

Akan tetapi, mendadak raut wajah Adinda menekuk, sehingga terlihat perangai seorang ibu yang sedang marang.

Kakanda : Ada apa? Apakah engkau marah atas perkataanku.

Adinda : Jelas, jadi engkau menganggap wajahku ini kelam sekelam sang malam?

Kakanda tertawa terbahak-bahak.

Kakanda : Bukan maksudku seperti itu, sayang. Tetapi walaupun wajahmu kelam, setidaknya engkau dapat menjadi pelita yang menerangi jalan hidupku.

Adinda merasa bahagia kembali, bahkan kebahagiaannya mengundang lelah di wajah dan kantuk di ufuk matanya, sungguh berlebihan.

Selamat tidur Adinda, selamatlah Kakanda.
Nouerdyn

(Visited 6 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part17
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *