Dihalaman rumah minimalis tanpa teralis itu berkumpul beberapa orang anak manusia, dengan wajah-wajah belia bersih tak bernoda.

Adinda : Mari kesini, anak-anak. Kita belajar menggambar disini.

Anak-anak itu mengikuti arahan dari Adinda, mereka berderet mengantri dengan rapi dan duduk dengan nyaman didalam pelataran rumah Adinda.

Adinda : Nah, sekarang gambarkan apa yang ingin kalian gambar dalam imajinasi kalian terlebih dahulu. 

Terlihat beberapa anak kebingungan.

Anonim : Bagaimana caranya, Kak?

Adinda : Ayo ikuti kakak yah, pejamkan mata kalian lalu bayangkan hal-hal yang menarik yang kalian inginkan.

Mereka serentak memejamkan mata, lalu tersenyum dengan riang, dalam bayangnya masing-masing.

Adinda : Bagaimana, kalian sudah bisa? Coba katakan apa yang kalian ingin gambarkan.

Ramai mereka mengatakan berbagai jenis benda, binatang, bahkan makanan yang memang sesuai dengan citarasa mereka. Adinda pun terlihat tersenyum dengan bangga.

Adinda : Baik kalau begitu segera gambarkan di kertas gambar kalian masing-masing ya.

Bibit-bibit bangsa itu pun menggambarkan kebahagiaan dalam hidupnya yang sedang bergulir, entah apakah dalam periode kehidupan mereka selanjutnya akan masih seperti demikian. Semoga saja, sebaya mereka mendapatkan hak-hak hidup yang disesuaikan bukan menyesuaikan.

Sekian menit berlalu, anak-anak tersebut terlihat menenteng gambar mereka masing-masing dan menunjukannya kepada Adinda. Senyum mereka semakin merekah dan tawa mereka semakin sumringah ketika Adinda memberikan hadiah kecil atas karya-karya yang mereka hasilkan.

Lihatlah senyum dan tawa mereka! Apakah kita tega merenggut porsi hidup mereka dengan mengontaminasikannya dengan dunia remaja? apalagi dunia dewasa? Macan pun tak mengajarkan anak-anaknya untuk berburu, apalagi mencabuli anak-anak mereka sendiri, dasar bejat! Makhluk apa oknum-oknum manusia tersebut?

Nouerdyn

(Visited 3 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part16
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *