Di tengah-tengah lapangan, yang ditumbuhi oleh rerumputan elok nan gemulai tatkala tersibak oleh desiran angin. Kakanda, berbaring dengan tenang sembari menikmati rumput-rumput yang terasa mengelitiki sekujur tubuhnya.

Kakanda : Dasar, rumput-rumput nakal.

Gumam Kakanda pada rumput, sambil mengelusnya halus, kenyamanan semakin menggelayut manja. Senja cerah berawan putih pasi,  menemani muai cahaya matahari yang paparannya mulai memudar. Kedua belah tangan yang melipat dibalik leher tak ubahnya sebuah bantal yang memberikan kenikmatan, terutama dalam membuat mata Kakanda terlelap.

Kakanda : Kenyamanan hadir ketika kita merasa nyaman, tidak perlu menunggu hal-hal yang awam, asalkan kita mempercayainya bila nyaman maka akan nyaman.

Tidur berkasurkan tanah berlapiskan sprei rerumputan, diselimuti semilir angin yang halus mengelus, dan diterangi lampu oleh sang surya yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Persiapan tersebut cukup untuk sedikitnya memberikan efek seratonin bagi tubuh Kakanda, melupakan sejenak penat yang menyerubungi daya tahannya terhadap kehidupan modern.

Kakanda : Izinkan aku menjamah keindahanmu, alam.

Entah berapa lama kemudian, matanya pun terpejam, dia tertidur pulas. Biarkan saja jangan diganggu, tidak usah dibangunkan,nanti waktu akan membangunkannya.

Selamat malam, Nouer Dyn.

(Visited 3 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part14
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *