Sang surya mulai bersembunyi di balik bukit, sekejap keindahan rotasi antara siang dan malam tengah terjadi di hadapan mata Kakanda. Seulas senyuman tak mampu ditahan ‘tuk hadir di kedua sudut bibirnya, tatkala mega indah terlukis di langit senja.

“Adinda kemarilah, mari bersama-sama kita nikmati pemandangan indah yang sedang disuguhkan oleh Tuhan ini!”

Adinda mendekat dengan langkah yang anggun, mendekap hangat tubuh Kakanda yang tengah tegap berdiri memancangkan kaki di .

“Sungguh indah.” begitu nyamannya kepala Adinda menggelayut manja di atas pundak Kakanda,

“Tentu, di .”

“Ada apakah gerangan disana, Kakanda?”

Kakanda menyunggingkan senyuman, seraya menghembuskan nafas dari dalam kalbu.

“Di sanalah, tempat sang malam bersemedi, menyucikan diri sebelum hadir ‘tuk selimuti dunia. Di sana juga, kelak aku ‘kan menyucikan diri dari kegelapan yang telah aku lakukan.”

Adinda, merona menatap kedua pasang mata Kakanda, keheranan dan kebingungan.

“Kegelapan? Kegelapan apa yang telah engkau lakukan, Kakanda? Selama ini yang aku tahu, engkau begitu murahnya menebarkan keindahan cahayamu kepada semua makhluk ciptaan-Nya.”

Senyum kembali menyeruak dari ujung bibir Kakanda, derai halus membelai rambut sutera Adinda yang terurai angin senja.

“Adinda, semua itu bukan kehendakku, melainkan kehendak-Nya yang ada di dalam tingkah laku yang aku amalkan. Sementara kehendaku sendiri tidaklah lebih dari sisi gelap yang aku miliki. Aku ingin seperti dia…”

Tangan kekar Kakanda menunjuk gradasi yang tengah terjadi di langit

Adinda : Engkau ingin seperti apa, Kakanda?

“Aku ingin seperti langit yang terkadang terang dan terkadang gelap. Di dalam terang siang, terkadang dia hadirkan gelap, yakni ketika awan mendung menyelimuti teriknya siang. Di dalam gelap malam, terkadang dia hadirkan terang, yakni ketika bintang gemintang menyelimuti kesunyiam malam.”

Adinda tampak terpesona, tampak merekah rona bahagia dari wajahnya tatkala mendengar kalimat yang terucap dari  mulu Kakanda.

“Tahukah engkau arti dari itu semua?”

Adinda menggelengkan kepalanya, semakin menatap dalam kedua pasang mata Kakanda.

“Begitulah filosofi kebijaksanaan, Adinda. Engkau harus memahaminya pula, karena itulah kunci kehidupan umat manusia.”

Kakanda mendekap hangat pelukan Adinda, sambil menikmati senja yang melambai di ujung langit yang mulai temaram.

Penjaja Kata

(Visited 11 times, 1 visits today)
Kakanda dan Adinda #Part1
Bagikan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *