“Heh, guys, lihat tuh! Ada Squidward masuk kelas kita! Hahaha…”

Ya, begitulah sambutan teman-temanku, saat batang hidungku menyentuh bayangan pintu kelas. Kurang ajar… hahaha

Memang Tuhan Maha Hebat, diciptakan oleh-Nya bentuk hidungku ini hampir mirip hidung salah satu karakter kartun favorit di teve. Menyesal? Untuk apa? Ah, aku pikir ini berkah, karena hidung inilah teman-temanku sudi memerhatikan gerak-gerikku setiap hari.

Bermula dari keputusan bijak Bu Syifa, wali kelas kami, semua candaan yang awalnya membuat sakit hati, justru sekarang membuat kami menjadi senang hati. Awal mulanya, teman kami yang bau badan melapor kepada beliau karena mengalami pelecahan. Tentu bukan pelecehan seksual, karena kami masih waras, melainkan pelecehan sensual.

Apanya yang sensual? Tentu bau badan teman kami lah. Ya, apa mau dikata, anak seumuran kami ini masih terlalu lugu untuk tidak berkata jujur, jadi kami pun jujur apa adanya tentang teman kami. 😀

Dalam kondisi tersebut, Bu Syifa pun tidak bisa mengambil keputusan siapa salah dan siapa benar. Tak layak pula meniru sistem di pengadilan, karena sistem tersebut tidak dapat mencerminkan sifat seperti kata dasar-nya.

“Anak-anak, ibu minta kalian isi pertanyaan-pertanyaan di kertas ini, ya.”

Kamu mau tahu apa saja pertanyaan di kertas tersebut? Tidak akan aku beritahu, karena isinya pertanyaan-pertanyaan yang menguak berbagai kekurangan yang kami miliki. :’)

Lebih parahnya lagi, Bu Syifa memasangnya di dinding kelas. Sudah pasti semua anak pun tahu kelemahannya masing-masing. Dan, awalnya kami tertawa terbahak-bahak mengetahui kelemahan masing-masing.

“Anak-anak, kalian itu seperti potongan puzzle, satu pun tidak ada yang memiliki bentuk kotak sempurna. Tapi, karena kalian bersama, maka kalian terlihat mendekati sempurna.” 🙂

Percaya atau tidak, kalimat tersebut membuat kami berhenti tertawa, kalimat tersebut pun membuat kami berhenti menghina satu sama lain. Ya, kami memang diciptakan memiliki kekurangan. Tetapi, karena kekurangan yang kami milikilah, kami dapat bersatu.

Penjaja Kata

 

(Visited 12 times, 1 visits today)
Puzzle Yang Tak Sempurna
Bagikan ke:

4 thoughts on “Puzzle Yang Tak Sempurna

  • June 15, 2015 at 3:09 am
    Permalink

    Luar biasa menginspirasi sekali pak, semoga saya juga dipertemukan dengan kepingan puzle yang bisa sekalian dijadikan tulang rusuk yah haha

    Reply
    • June 15, 2015 at 11:14 am
      Permalink

      Hahaha, Aamiin. 😀

      Reply
  • June 16, 2015 at 2:30 am
    Permalink

    Aku suka di bagian pas ibu gurunya ngomong ttg puzzle. Hehe. Oh iya, aku ada sedikit masukan. Pas bagian “memperhatikanku gerak-gerik setiap hari.” Mungkin lebih enak dibaca kalo kalimatnya jadi “memerhatikan gerak-gerikku setiap hari.” Hehe. Semoga membantu^^

    Reply
    • June 16, 2015 at 2:37 am
      Permalink

      Wah, terima kasih atas kunjungan dan koreksinya. 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *