Selama 12 tahun mengemban titel sebagai “siswa”, setiap hari akrab dengan tempat yang bernama “sekolah”, dan  badan akrab dengan pakaian yang selalu melekat bernama “seragam”. Begitulah kehidupan semasa sekolah, terasa monoton namun tetap mengesankan. Tentu secara  garis besar, hal senada dialami oleh semua orang di Indonesia selama mengalami masa-masa sekolah.

Namun, hal yang akan dibahas kali ini adalah peran para guru teladan selama di masa-masa sekolah dulu. Guru teladan, memang menjadi sosok yang sangat berjasa dalam perkembangan murid-muridnya. Seorang guru teladan, tidak hanya dapat membimbing murid-muridnya yang rajin, begitu pun dia dapat membimbing murid-muridnya yang malas pula.

Sosok dari seorang guru teladan seperti itulah yang saya harapkan ada pada sosok presiden Indonesia selanjutnya, sosok seorang presiden yang dapat membimbing masyarakat Indonesia yang memiliki beragam watak dan sifat menuju ke arah yang lebih baik. Indonesia membutuhkan seorang figur pemimpin yang bijak dalam perkataan maupun perbuatan, seorang pemimpin yang dapat memberikan contoh yang baik dan dapat ditiru oleh masyarakatnya.

Sejauh ini ditinjau dari para calon presiden dari tiap partai politik, saya belum dapat menilai presiden yang mana yang cocok dengan kategori yang saya jelaskan tadi. Namun, bukan berarti sosok seorang guru teladan yang saya asumsikan dapat menjadi calon pemimpin yang hebat untuk memimpin Indonesia, ini hanya sekedar pendapat dari seorang pemuda yang berharap negaranya semakin berkembang kea rah yang lebih baik.

Jika kita tinjau histori para pemimpin Indonesia, latar belakang para pemimpin Indonesia kebanyakan berasal dari latar belakang militer, sebut saja nama Soekarno, Soeharto atau pun presiden Indonesia saat ini Susilo Bambang Yudhoyono. Belum ada satu sosok yang memiliki figur seorang guru teladan, adapun Gus Dur beliau termasuk ke dalam kategori ulama.

Terlepas dari itu semua, bukan berarti saya merendahkan kualitas jiwa kepemimpinan dari didikan militer Indonesia. Namun jika kita bermain pada fakta yang ada, dapat saya simpulkan bahwa gaya kepemimpinan militer kurang cocok diterapkan kepada masyarakat Indonesia. Gaya kepemimpinan militer akan sangat tepat diterapkan kepada para tentara yang memang telah ditanamkan kebiasaan untuk disiplin dalam berbagai hal, sedangkan kedisiplinan dalam masyarakat Indonesia masih berjalan fluktuatif dan hanya diterapkan oleh segelintir orang saja.

Lebih jauh lagi, sosok guru teladan yang saya junjung disini tidaklah harus dan mutlak menjurus pada profesi seorang guru, akan tetapi dapat berlaku pada berbagai bidang-bidang lainnya. Akan tetapi, memang sosok teladan yang banyak saya temui lebih sering ketika saya berada di masa-masa sekolah. Sebagai siswa yang cenderung condong sebagai siswa kurang rajin, hampir sangat sering beberapa figur seorang guru yang saya anggap teladan dapat membimbing saya menuju kearah yang lebih baik, baik itu dalam konteks akademik maupun non akademik.

Guru adalah orang tua kita selama di sekolah, begitu pendapat yang sering saya dengar mengenai sosok seorang guru, secara demikian dapat dianalogikan bahwa seorang guru harus menunjukan sikap selayaknya orang tua bagi murid-muridnya. Begitu pun seorang pemimpin, ketika seorang pemimpin menghargai rakyatnya dan menganggap rakyat adalah bagian dari keluarganya, dapat dibilang pemimpin tersebut adalah sosok pemimpin yang dibutuhkan Indonesia saat ini.

Memang sosok seperti itu sangat sulit untuk ditemui, karena kebanyakan mereka lebih memilih mengabdi kepada masyarakat tanpa mementingkan jabatan mereka dalam sistem pemerintahan. Beban yang ditanggung seorang pemimpin, apalagi seorang presiden memang sangat besar. Selain bertanggung jawab atas kemakmuran negara beserta rakyatnya, harkat dan martabat bangsa pun akan tercermin dari tingkah laku sang pemimpin bangsa.

Seperti itulah kurang lebihnya pemimpin yang saya idamkan untuk memimpin negeri ini, negeri yang dapat dibilang dewasa sebelum waktunya, egara yang membutuhkan figure seorang yang dapat mengayomi semua lapisan masyarakat. Seorang pemimpin yang dapat membuat beragam menjadi seragam dan menyatukan yang berseteru menjadi bersepupu, semoga sosok tersebut hadir dari calon presiden yang akan kita pilih beberapa waktu nanti.

Penjaja Kata

(Visited 17 times, 1 visits today)
Ibarat Sang Guru Teladan
Bagikan ke:
Tagged on:                         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *