Pendidikan adalah kebutuhan dasar dalam kehidupan modern, dengan mendapatkan pendidikan yang baik, manusia dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sebagai kebutuhan dasar, sudah tentu menjadi hak setiap individu manusia untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan benar.

Tetapi, apakah hambatan yang dimiliki oleh seseorang dalam menerima pendidikan adalah bentuk dari sebuah kegagalan dalam belajar? Tentu tidak benar, karena setiap manusia diciptakan memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, sudah tentu keadilan merupakan ‘produk’ yang wajib dihadirkan dalam suatu sistem pendidikan.

Munif Chatib, penulis buku Sekolahnya Manusia, memberikan sebuah pemahaman dalam memandang pendidikan melalui sebuah novel edukasi yang berjudul Bella: Sekolah Tak Perlu Air Mata, yang diterbitkan oleh Penerbit Kaifa: Salah satu bagian penerbitan di PT. Mizan Pustaka. Beliau mengemas pengalaman hidupnya sendiri ke dalam novel ini, disajikan dengan gaya bahasa santai dan mudah dipahami oleh pembaca.

Bella adalah seorang anak yang mengalami disleksia dan diskalkulia, dua jenis penyakit yang menghambat kemampuan otak. Alhasil, Bella selalu pun mengalami proses yang sulit untuk dapat mengenyam pendidikan. Mulai dari proses saat akan masuk TK maupun sekolah, badai kendala tiada henti menerpa Bella.

Bahkan, saat duduk di bangku sekolah, guru yang tidak mengerti kondisi yang dialami Bella, sering menjustifikasi bahwa Bella merupakan anak yang bodoh. Bukannya membuat semakin baik, justru hal itu memperparah keadaan psikis Bella, karena bukan perasaan bahagia yang didapatkan di saat sekolah, melainkan tetesan air mata.

Beruntunglah orangtuanya, Alwan dan Salma, merupakan orangtua hebat yang tak pernah patah semangat untuk membimbing Bella mendapatkan kehidupan terbaik, terutama di bidang pendidikan. Tidak hanya itu saja, bantuan dari Jauhari, teman sang Ayah yang berprofesi sebagai psikolog, turut membantu perkembangan Bella ke arah yang lebih baik.

SD Bunga Bangsa, menjadi contoh dari sekolahnya manusia, sekolah yang memberikan keadilan bagi para siswa-siswinya dalam mendapatkan pendidikan. Di sekolah ini lah Bella dapat mendapatkan pendidikan terbaik, pendidikan yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik.

Memang bukan proses yang instan SD Bunga Bangsa dicap sebagai sekolahnya manusia, butuh perujuangan luar biasa dari para guru di sekolah tersebut untuk mewujudkannya. Pak Halim dan Bu Nur, menjadi dua tokoh guru teladan dalam mewujudkan sistem sekolahnya manusia di SD Bunga Bangsa.

Sebait kisah tersebut terukir indah di dalam novel Bella: Sekolah Tak Perlu Air Mata, sebuah karya literasi yang wajib dibaca dan diamalkan oleh para orangtua dan para guru di Indonesia, terutama dalam memahami kondisi anak yang mengalami disleksia dan diskalkulia. Novel Bella: Sekolah Tak Perlu Air Mata akan segera hadir di seluruh toko buku di Indonesia pada pertengahan bulan Agustus 2015, nantikan saja kehadirannya, ya. 🙂

Penjaja Kata

(Visited 79 times, 1 visits today)
Disleksia dan Diskalkulia? Temukan Solusi Penyembuhannya Dalam Novel Bella
Bagikan ke:

2 thoughts on “Disleksia dan Diskalkulia? Temukan Solusi Penyembuhannya Dalam Novel Bella

  • August 12, 2015 at 1:49 pm
    Permalink

    Bener nih, sekolah kita hari ini kayaknya nggak ada yg memanusiakan manusia.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *