Makanan menjadi salah satu jenis bisnis yang memiliki respon cukup baik, apalagi makanan khas atau berasal dari daerah tertentu. Contoh saja ayam geprek yang berasal dari Jogja, kini di berbagai daerah kita mudah menemukannya karena cukup banyak peminatnya. Berhubung saya suka jalan-jalan dan sekarang lagi asyiknya mencari peluang usaha baru, memang saya berencana untuk mengeksplorasi peluang bisnis dari sana.

Dan baru-baru ini yang sempat viral ialah rujak cingur dengan harga 60 ribu di Surabaya, efek viral ini sebenernya membuat saya tertarik untuk langsung mencicipi rujak cingur tersebut. Rencananya sih saya akan segera memesan tiket kereta Bandung-Surabaya untuk mengenang momen traveling di Surabaya pas zaman kuliah, tapi pulangnya kemungkinan akan pakai bus supaya bisa menikmati perjalanan. Kebetulan saya berencana menggunakan bus Joglosemar, fasilitasnya keren dan harganya sangat terjangkau banget sih, buat yang penasaran bisa klik link ini ya.

Sebelum itu, saya sempat menggali data sebelumnya untuk mengetahui latar belakang viral-nya rujak cingur dengan harga 60 ribu. Rujak cingur ibu Mella namanya dan sudah selama 20 tahun berjualan di sekitar Jalan Raya Wiguna Timur Surabaya, saya sangat tertarik untuk main ke Surabaya dan brainstorming dengan ibu Mella. Siapa tahu kan bisa membuat jualan yang viral juga seperti rujak cingur bu Mella. hehehe

Sumber: detik.com

Berbeda dengan warung seafood yang sempat viral di Tegal, ternyata harga jual rujak cingur bu Mella ini kenaikkannya cukup signifikan, tidak berlangsung dengan drastis dan pembeli-pembelinya pun mengetahui track record dari harga rujak cingur bu Mella. Ya pasti ada harga ada rasa dong ya, kebetulan saya pun penikmat rujak cingur dan harga 60 ribu masih terjangkau lah.

Ada banyak hal yang ingin saya gali dari Bu Mella, terutama dalam segi konsep bisnis. Cukup banyak memang bisnis kaki lima yang saya ketahui, memiliki omset fantastis yang bahkan melebihi pengusaha-pengusaha F&B lain yang harus mengeluarkan cost lebih untuk sewa ruko atau bayar tim managemen-nya. Bermodalkan gerobak sederhana dan karyawan-karyawan dengan sistem gaji “kekeluargaan”, bisnisnya bisa berkembang pesat dengan omset yang selalu meledak-ledak.

Awalnya saya berpikir Bu Mella sanggup bertahan dengan harga mahal pada barang jualannya, karena branding positioning yang coba ia terapkan ialah convenience, sehingga walau harga mahal tetapi kualitas citarasa yang dijaga tetap menjadi hal utama. Bahkan terlihat dari foto di beberapa media, Bu Mella juga menyajikkan rujak cingur dengan cara yang cukup higienis, bukan dengan cara yang sembarang beres atau asal jadi saja.

Namun ketika tahu pemaparan dari Bu Mella kepada para pewarta, jadi lumayan bingung juga, sih. Beliau berujar kalau rujak cingur yang dia banderol seharga 60 ribu tersebut, ternyata bukanlah rujak cingur yang termahal, masih ada bahkan para penjual rujak cingur lain yang membanderol jualannya di atas harga rujak cingur buatan tangan Bu Mella. Cuma memang karena faktor viral konten, membuat rujak cingur Bu Mella jadi lebih terlihat, mungkin harganya pun akan lebih naik karena beliau sudah diliput di media-media ternama di Indonesia ya. hehehe

Padahal di Bandung saja saya mencoba rujak cingur, harganya tidak sampai di atas 50 ribu lho, bahkan tempatnya pun di restoran bukan di pinggir jalan. Tapi kok bisa Bu Mella berjualan di pinggir jalan, harga jual pun cukup di atas rata-rata (rata-rata informasi yang saya tahu.. hehe), tapi beliau bisa bertahan berjualan sampai dengan 20 tahun lamanya.

Baca Juga : Persiapan Hunting Rujak Cingur dan Kuliner di Surabaya

Bukan cuma rezeki saja, sih. Mungkin ada perhitungan lain juga kan? Ya namanya menggali data bisnis, ya harus sedetail mungkin, saya pun sudah mempersiapkan beberapa pertanyaan ke Bu Mella. Nanti mungkin akan saya buat secara verbal dengan percakapan informal, sekaligus mengumpulkan data untuk membuat konsep bisnis makanan juga.

Dan mungkin bukan cuma rujak cingur, mungkin masih ada jenis kuliner unik lain yang bisa diangkat dari Surabaya, saya juga penasaran ingin mencoba menggali sih. Karena memang biasanya membuka kuliner daerah lain di daerah yang berbeda, responnya pun selalu bagus. Ya semoga deh ada ide bisnis yang saya temukan setelah plesiran ke Surabaya dan ngobrol-ngobrol bareng Bu Mella. 😀

Penjaja Kata

 

(Visited 20 times, 1 visits today)
Berburu Ide Bisnis Makanan di Yogyakarta dan Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *