“Menuju Bandung, kota buku sejagad.”

Sempat merasa kurang percaya dengan salah satu rangkaian kata pada media promosi kegiatan pameran buku Bandung yang diselenggarakan oleh IKAPI Jawa barat tahun lalu, hal ini dilatar belakangi analisis pribadi saya bahwa masyarakat di kota Bandung mayoritas lebih memilih meluangkan waktunya untuk berbagai hal yang berbau hiburan dibandingkan untuk meluangkan waktu membaca buku.

Apalagi setelah saya melakukan plesiran beberapa bulan lalu di Yogyakarta, di kota gudeg tersebut saya menganalisa kebiasaan masyarakat secara stimulan setiap hari. Aktivitas membaca cukup banyak dilakukan di berbagai tempat, baik itu di dalam kendaraan maupun di tempat-tempat umum. Bahkan cenderung komprehensif sosial, karena dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat.

Salah satu contohnya para tukang becak yang banyak berkeliaran di seputar kota Yogyakarta yang mengisi waktu luang dengan membaca koran, bagi saya selaku urang Bandung tentu ini sebuah pemandangan yang janggal, karena di kota kembang hampir banyak tukang becak lebih memilih untuk tidur ataupun terkadang bermain kartu remi dengan rekan seprofesinya di waktu senggang & sedang tidak ada penumpang.

Berawal dari hobi membaca buku yang mengandung unsur analisis memang membuat saya menganalisis beberapa hal dengan detil, tentu ini adalah salah satu manfaat yang saya dapatkan dari menggemari aktifitas membaca buku. Manfaat inilah yang saya ingin tularkan, khususnya di regional kota Bandung yang ingin dinobatkan sebagai kota buku sejagad.

Selang beberapa waktu analisis yang saya lakukan mendapat titik terang. Terutama setelah saya mengenal beberapa orang yang bekerja di beberapa penerbit major di kota Bandung. Berdasarkan hasil berbincang-bincang bersama mereka, saya akhirnya dapat mengerti mengapa Bandung dapat dinobatkan sebagai kota buku sejagad.

Ternyata penjualan buku di daerah Jawa barat merupakan daerah dengan tingkat pembelian buku paling laris, apalagi penyelenggaraan acara pameran/ bazaar buku di beberapa tempat di kota Bandung pada khususnya sering diadakan setiap tahunnya. Jadi, pada dasarnya minat membaca buku di kota Bandung sudah cukup baik, sayangnnya masih pada golongan-golongan masyarakat tingkat menengah ke atas.

Buku bagaikan internet, jadi bukan hanya sekedar dibuat murah melainkan akses untuk menggapainya pun harus dipermudah. Salah satu contoh misalnya dengan menghadirkan perpustakaan dengan akses mudah dan gratis untuk masyarakat, terutama di daerah-daerah yang jauh dari daerah perkotaan dan tingkat penjualan bukunya masih minim.

Buku-buku self improvement di berbagai bidang dapat menjadi salah satu opsi jenis buku yang disediakan, karena biasanya masyarakat akan lebih asyik membaca buku yang dapat diaplikasikan langsung dalam kegiatannya. Sambil menyelam minum air, sambil menggiatkan budaya gemar membaca masyarakat pun mendapatkan skill baru yang bisa menambah nilai jual dirinya.

Lalu, tugas dan tanggung jawab siapa? Tentu menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama. Pihak penerbitan buku & organisasi terkait sebagai konseptor, masyarakat yang bertugas sebagai eksekutor, dan pemerintah yang bertugas sebagai fasilitator. Sehingga akan tercipta sebuah simbiosis mutualisme dari semua pihak, hal ini juga menjadi salah satu cara menggaungkan kembali budaya bangsa Indonesia yang mulai terkikis yakni “Gotong Royong”.

Saran kecil ini adalah salah satu bagian marketing agar kegiatan membaca buku semakin digemari masyarakat dari berbagai kalangan, apabila masyarakat sudah terbiasa membaca buku pasti nantinya untuk membeli buku bukan sebuah pengeluaran yang termasuk langka, karena masyarakat akan semakin paham dan turut mendapatkan manfaat membaca buku.

Hal serupa kita dapat lihat dari penggunaan pulsa untuk penggunaan handphone, bayangkan saja kini betapa mudahnya masyarakat dari berbagai kalangan untuk menghabiskan uangnya demi membeli pulsa, padahal itupun hanya untuk kebutuhan basa-basi yang sebenarnya bukan sebuah kebutuhan manusia yang mendesak.

Jadi apakah kota Bandung ciyus menjadi kota buku sejagad? Jawabannya tentu serius, asalkan semua pihak mau untuk belajar berbuat dan bekerja sama. Miapah? Tentu demi menggelorakan budaya gemar membaca buku, agar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Bukan hanya masyarakat di Bandung saja, tetapi di seluruh pelosok nusantara. Anggap saja Bandung menjadi router wifi yang bisa digunakan sebagai media akses internet bagi seluruh masyarakat Indonesia. 😀

Let’s Read!
Pameran Buku Bandung 2014

Penjaja Kata

(Visited 27 times, 1 visits today)
Bandung, Kota Buku Sejagad. Ciyus? Miapah?

4 thoughts on “Bandung, Kota Buku Sejagad. Ciyus? Miapah?

  • August 30, 2014 at 11:22 pm
    Permalink

    yang disoroti itu sisi marketing to, bukan habitual. tapi bagus tu. kalau perlu ada kompetisi macam itu sehingga semua kota berlomba-lomba untuk memperebutkan award itu. kayak piala bergilir gitu. muehehe :3

    Reply
    • August 31, 2014 at 4:01 am
      Permalink

      Kalau marketingnya bagus, nanti akan berdampak pada habitualnya juga ko. Contohnya air minum kemasan, dulu masyarakat kurang mengapresiasi inovasi tersebut, tetapi nyatanya sekarang masyarakat tidak bisa lepas dari kebutuhan akan minuman kemasan. 🙂
      Wah saran yang bagus, nanti akan coba saya utarakan pada pihak terkait. Salam kenal & terima kasih sudah berkunjung. 😀

      Reply
  • August 31, 2014 at 2:57 am
    Permalink

    Kalau Puskesmas ada di setiap Kecamatan, kenapa tidak Perpustakaan juga seperti Puskesmas

    Reply
    • August 31, 2014 at 4:06 am
      Permalink

      Benar. Untuk kesehatan jasmani sudah ada puskesmas, kesehatan rohani sudah ada mesjid, nah untuk kesehatan intelegensi cocok apabila disediakan perpustakaan. Ide yang brilian, bung Octamala. 😀

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *